Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru merupakan prasyarat utama dalam mempercepat transformasi pendidikan di daerah. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan dialog bersama pemerintah daerah dan perwakilan guru se-Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Sabtu (2/5).
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Bupati Pulang Pisau ini diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas guru, organisasi profesi, serta pemangku kepentingan pendidikan. Dialog berlangsung dalam format panel interaktif, menghadirkan ruang artikulasi langsung atas persoalan riil yang dihadapi guru di lapangan.
Dalam arahannya, Wamendikdasmen menekankan bahwa tantangan utama pendidikan saat ini tidak lagi terletak pada akses, melainkan kualitas pembelajaran di ruang kelas. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan nasional menempatkan guru sebagai prioritas utama dalam pembangunan sumber daya manusia. “Guru tidak bisa lagi diposisikan sekadar pelaksana kurikulum. Guru adalah aktor kunci yang menentukan kualitas pembelajaran. Karena itu, penguatan kompetensi dan kesejahteraan guru harus berjalan simultan,” ujar Fajar.
Berdasarkan data Rapor Pendidikan, kualitas layanan pendidikan di Pulang Pisau masih memerlukan penguatan, khususnya pada aspek literasi, numerasi, dan kualitas pembelajaran. Indeks Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang berada pada angka 68,48 menunjukkan capaian yang belum optimal dan memerlukan intervensi yang lebih sistematis.
Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah pusat telah menetapkan arah kebijakan strategis tahun 2026 yang mencakup peningkatan kualifikasi akademik guru, penguatan kompetensi berbasis praktik pembelajaran, serta integrasi teknologi dalam proses belajar mengajar. Pendekatan ini diarahkan untuk memastikan guru tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga mampu menjadi motor inovasi di kelas.
Selain aspek kualitas, isu kesejahteraan guru juga menjadi perhatian utama dalam diskusi. Wamendikdasmen menegaskan bahwa tata kelola guru ke depan akan dibangun dalam satu siklus utuh yang mencakup rekrutmen, pengembangan, kinerja, kesejahteraan, hingga karier. Pendekatan ini bertujuan menciptakan sistem yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan bagi profesi guru.
Dalam forum tersebut, sejumlah guru menyampaikan tantangan yang mereka hadapi, antara lain keterbatasan akses terhadap pelatihan berbasis praktik, minimnya pemanfaatan data dalam perencanaan pembelajaran, serta keterbatasan sarana digital. Wamendikdasmen menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan parsial, melainkan membutuhkan dukungan sistemik dari pemerintah daerah dan pusat. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan pelatihan sesaat. Yang dibutuhkan adalah ekosistem pembelajaran guru yang berkelanjutan, berbasis komunitas, dan didukung kebijakan yang konsisten,” tegasnya.
Lebih lanjut, Wamendikdasmen mendorong optimalisasi peran komunitas belajar guru seperti KKG dan MGMP sebagai ruang refleksi dan berbagi praktik baik. Ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan kepala sekolah sebagai instructional leader yang mampu memastikan kualitas pembelajaran berjalan efektif di satuan pendidikan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kerja Wamendikdasmen di Kalimantan Tengah dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026. Dialog tersebut diharapkan memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menghadirkan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan guru.
Sebagai penutup, Wamendikdasmen menegaskan bahwa masa depan pendidikan daerah sangat ditentukan oleh kualitas guru. “Jika guru kuat, maka sekolah akan maju. Dan jika sekolah maju, masa depan daerah akan terjamin,” pungkasnya.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News


.webp)














