Beranda blog Halaman 522

Cuaca Jakarta Hari Ini: Hujan Ringan Merata dari Pagi hingga Malam

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca Jakarta akan didominasi hujan berintensitas ringan sepanjang hari ini, Rabu (21/1). Berdasarkan informasi yang dirilis melalui laman resmi BMKG, seluruh wilayah DKI Jakarta berpotensi diguyur hujan sejak pagi hingga malam hari.

Pada pagi hari, hujan ringan diprediksi turun merata di seluruh wilayah, mulai dari Kepulauan Seribu, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, hingga Jakarta Timur.

Memasuki siang hari, kondisi serupa masih berlanjut. Hujan ringan diperkirakan kembali membasahi keenam wilayah tersebut tanpa pengecualian.

BMKG juga mencatat bahwa pada sore hingga malam hari, hujan ringan masih akan bertahan dan berpotensi mengguyur seluruh area Jakarta.

Selain itu, BMKG memperkirakan suhu udara di Jakarta berada pada kisaran 23–27 derajat celsius dengan tingkat kelembapan 80–96 persen. Masyarakat pun diimbau untuk mempersiapkan perlengkapan penunjang, seperti payung atau jas hujan, serta mewaspadai potensi jalan licin dan genangan air di beberapa titik.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Mendes Yandri Dorong Peran Aktif Bupati Percepat Pemerataan Ekonomi Desa

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menegaskan pentingnya peran pemerintah kabupaten dalam mempercepat pembangunan desa dan pengentasan kemiskinan. Menurutnya, keterlibatan aktif para bupati menjadi kunci utama untuk mewujudkan pemerataan ekonomi sebagaimana tertuang dalam Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto.

Hal tersebut disampaikan Mendes Yandri saat menjadi narasumber dalam forum dialog bersama Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) di Batam, Selasa (20/1/2026). Forum tersebut mengangkat tema penguatan peran kabupaten dalam optimalisasi Dana Desa, pengentasan kemiskinan ekstrem, serta percepatan pembangunan kawasan perdesaan dan daerah tertinggal.

“Pembangunan desa tidak bisa berjalan sendiri. Saya ingin bekerja sama dengan seluruh bupati di Indonesia untuk melihat potensi dan peluang yang bisa dikembangkan bersama,” ujar Mendes Yandri.

Ia menekankan, setiap kepala daerah perlu melakukan pemetaan potensi desa secara menyeluruh, mulai dari sumber daya alam, kualitas sumber daya manusia, hingga produk unggulan yang dapat dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Dalam mendukung hal tersebut, pemerintah telah menyiapkan berbagai instrumen penguatan ekonomi desa, di antaranya melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Kedua lembaga ini diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional.

Mendes Yandri juga mengungkapkan target pengembangan 5.000 desa ekspor yang tengah disiapkan bersama Kementerian Perdagangan. Program ini diyakini dapat meningkatkan nilai tambah produk desa sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di perdesaan.

“Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi mesin penggerak ekonomi desa. Dari sinilah pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan bisa kita wujudkan,” katanya.

Forum dialog tersebut berlangsung interaktif dengan diwarnai penyampaian berbagai persoalan desa oleh para bupati dari sejumlah daerah. Setiap masukan dan kendala yang disampaikan langsung ditanggapi Mendes Yandri sesuai dengan kebijakan dan kewenangan Kementerian Desa dan PDT.

Lebih lanjut, Mendes Yandri menegaskan bahwa desa merupakan fondasi utama pembangunan nasional karena mendominasi wilayah Indonesia. Oleh sebab itu, penguatan desa harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Sebagai langkah konkret, Kemendes PDT terus mendorong kolaborasi lintas sektor, melibatkan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, sektor swasta, organisasi non-pemerintah, hingga kelompok masyarakat. Kolaborasi ini juga diarahkan untuk mendukung program prioritas nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).

Untuk mempercepat implementasi di lapangan, Mendes Yandri menggagas 12 Aksi Prioritas Bangun Desa Bangun Indonesia yang mencakup revitalisasi BUMDesa, pembentukan KDMP, pengembangan desa ekspor, swasembada pangan, hilirisasi produk unggulan desa, hingga peningkatan investasi desa melalui kemitraan nasional dan internasional.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Mendes Yandri Siap Kawal Digitalisasi 606 Desa Blank Spot di Sulawesi Tengah

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menyatakan komitmennya untuk membantu percepatan digitalisasi desa di Provinsi Sulawesi Tengah, terutama pada 606 desa yang masih mengalami blank spot jaringan internet. Digitalisasi dinilai menjadi langkah krusial agar desa tidak tertinggal dalam arus pembangunan nasional.

Komitmen tersebut disampaikan Mendes Yandri saat menerima audiensi Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid di Kantor Kementerian Desa dan PDT, Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (19/1/2026).

Menurut Mendes Yandri, pemanfaatan teknologi digital di desa saat ini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Terlebih, mayoritas masyarakat desa telah terbiasa menggunakan perangkat digital seperti smartphone, sehingga diperlukan ekosistem yang mendukung agar potensi desa dapat berkembang optimal.

“Kami berdiskusi bagaimana persoalan bisa diubah menjadi peluang. Tantangan seperti desa blank spot, keterbatasan listrik, hingga pengadaan lahan koperasi harus kita jawab dengan solusi konkret,” ujar Mendes Yandri.

Ia menambahkan, pemerintah pusat akan mengawal pembangunan infrastruktur pendukung digitalisasi desa, termasuk untuk menunjang pengembangan Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih serta BUMDes. Dengan dukungan jaringan internet yang memadai, akses pasar produk desa di Sulawesi Tengah diharapkan dapat menembus pasar nasional hingga internasional melalui platform digital dan e-commerce.

Sebagai bentuk keseriusan, Mendes Yandri berencana melakukan kunjungan langsung ke Sulawesi Tengah bersama jajaran Kementerian Desa dan PDT. Kunjungan tersebut akan diisi dengan pertemuan bersama seluruh kepala desa untuk memastikan percepatan program strategis berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.

“Kita akan jadwalkan kunjungan ke Sulawesi Tengah, bertemu langsung dengan kepala desa agar transformasi digital ini benar-benar dirasakan manfaatnya,” kata Mendes Yandri.

Dalam kesempatan itu, Mendes Yandri juga mengapresiasi kepemimpinan Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid yang dinilainya memiliki pengalaman panjang di pemerintahan, mulai dari tingkat desa hingga nasional.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan yang diberikan Kemendes PDT. Ia menilai komitmen tersebut menjadi harapan besar bagi masyarakat desa, khususnya di wilayah-wilayah yang masih kesulitan akses jaringan internet.

“Digitalisasi sangat penting untuk mendukung pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Namun tantangan kami masih cukup besar karena 606 desa masih blank spot, ditambah persoalan infrastruktur dasar di sejumlah wilayah,” ungkap Anwar Hafid.

Audiensi tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Desa dan PDT Ariza Patria, Sekretaris Jenderal Kemendes PDT Taufik Madjid, para direktur jenderal, kepala badan, staf ahli, serta jajaran pimpinan di lingkungan Kementerian Desa dan PDT.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Mendes Yandri Dorong Desa Jadi Pelaku Utama Ketahanan Iklim

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mendorong agar desa-desa di Indonesia menjadi pelaku utama ketahanan iklim, mampu mengawal, menghadapi perubahan iklim.

Hal tersebut Mendes Yandri sampaikan dalam Workshop Global Knowledge Exchange on Community-Driven Approaches for Resilience yang digelar Kemendes PDT bersama Bank Dunia di Jakarta, Senin (19/1/2026) malam.

Mendes Yandri menilai lokakarya internasional ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan sistem yang konstruktif agar desa tidak hanya memahami isu iklim, tetapi juga mampu berperan aktif dalam adaptasi dan mitigasi dalam menghadapi perubahan iklim.

“Bagaimana melalui lokakarya ini kita cari cara dan sistem yang konstruktif untuk memastikan desa paham, mau, dan menjadi pelaku utama dalam menghadapi perubahan iklim,” kata Mendes Yandri.

Mendes Yandri menyebut perubahan iklim telah menimbulkan dampak serius bagi desa-desa di Indonesia, mulai dari banjir hingga kerusakan lingkungan yang menyebabkan sebagian desa lenyap. Ia mencontohkan sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Tengah, hingga Sulawesi Utara yang terdampak bencana dalam beberapa waktu terakhir.

“Di Aceh itu banyak desa yang hilang, yang selama ini desanya ada menjadi tidak ada karena terdampak banjir yang luar biasa,” ujar Yandri.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan desa merupakan wilayah paling rentan ketika krisis iklim terjadi, sekaligus pihak pertama yang merasakan dampaknya secara langsung. Desa-desa yang sebelumnya subur dan menjadi pusat kehidupan masyarakat kini kehilangan keberadaannya akibat kerusakan lingkungan.

“Karena akibat dari atau terdampak dari banjir yang luar biasa terjadi. Itu akibat dari perubahan iklim. Desa-desa dulu yang hebat, sejuk, ramah, banyak penduduknya. Hari ini desa itu lenyap dari keberadaannya,” ujar Mendes Yandri.

Dalam forum yang dihadiri perwakilan dari 12 negara tersebut, Yandri mengatakan bahwa isu perubahan iklim bukan hanya tanggung jawab Indonesia, melainkan tanggung jawab bersama, lintas negara dan lintas pihak. Ia menilai posisi Indonesia sebagai paru-paru dunia membuat upaya menjaga desa dan lingkungan memiliki dampak global.

“Kalau Indonesia tidak kita rawat secara bersama-sama atau kontribusi kita tidak kita maksimalkan, maka sesungguhnya kita tidak memaksimalkan bagaimana kita merawat dunia di mana kita berada,” ujarnya.

Leih lanjut, Mendes Yandri menuturkan, di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, desa kini ditempatkan sebagai subjek pembangunan nasional. Pendekatan ini sejalan dengan visi membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi sekaligus pengentasan kemiskinan.

“Hari ini di bawah Bapak Presiden Prabowo Subianto, desa menjadi sangat strategis dan sangat penting,” kata Mendes Yandri.

Ia menjelaskan, Kementerian Desa PDT telah menjalankan 12 aksi bangun desa yang berfokus pada penguatan ekonomi, ketahanan pangan, energi, air, hingga pengelolaan lingkungan. Menurutnya, seluruh aksi tersebut bermuara pada upaya menjaga keberlanjutan desa sekaligus ketahanan iklim.

“Dua belas aksi ini sejatinya ujungnya adalah menyelamatkan bumi ini, menyelamatkan kita semua, dan menyelamatkan umat manusia,” ujarnya.

Sebagai contoh, Yandri menyebut pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), koperasi desa Merah Putih, desa tematik pangan, hingga desa ekspor yang telah menembus pasar internasional. Ia mencontohkan ekspor ikan hias dari Pandeglang ke Kanada dan Eropa serta gula kelapa dari Banyumas ke Hongaria dan Spanyol.

Ia menambahkan, keterlibatan seluruh unsur desa menjadi kunci dalam membangun ketahanan bersama, mulai dari kepala desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), perangkat desa, hingga masyarakat. Menurutnya, dalam membangun ketahanan iklim, kolaborasi lintas pihak, termasuk dengan Bank Dunia, harus dijalankan secara nyata dan berkelanjutan.

“Ini bukan hanya sekadar bahasa basi, bukan sekadar seremonial, tapi benar-benar kita kawal,” kata Mendes Yandri.

Dengan jumlah 75.266 desa di Indonesia, Yandri menegaskan bahwa keberhasilan desa dalam menghadapi perubahan iklim akan sangat menentukan daya tahan Indonesia secara keseluruhan di masa depan.

Capaian Stranas Pencegahan Korupsi Kemenag di Atas Rata-rata Nasional

Kementerian Agama (Kemenag) mencatat capaian positif dalam implementasi Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) Tahun 2025. Berdasarkan data kuantitatif yang dirilis melalui laman jaga.id, Kementerian Agama memperoleh skor 69,88 persen pada periode B12 (bulan ke-12).

Capaian tersebut berada di atas rata-rata nasional serta melampaui target B12 Tahun 2025 sebesar 50 persen, dengan target akhir B24 (Desember 2026) sebesar 100 persen. Irjen Kemenag, Khairunas menyampaikan bahwa capaian tersebut menunjukkan progres yang sangat baik pada tahun pertama pelaksanaan Stranas PK periode 2025–2026.

“Dengan target B12 sebesar 50 persen, capaian 69,88 persen menunjukkan bahwa Kementerian Agama berada pada jalur yang tepat dan progresif menuju target maksimal 100 persen pada B24 Desember 2026,” ujar Khairunas di Jakarta, Senin (19/1/2026).

Berdasarkan pemantauan kuantitatif Stranas PK, capaian Kementerian Agama pada periode B12 2025 terdiri atas sejumlah indikator utama. Pada Aksi Digitalisasi Layanan, Kementerian Agama mencatatkan capaian 70 persen, yang antara lain didukung oleh penguatan digitalisasi layanan publik melalui Sistem Informasi Manajemen Nikah (Simkah) yang telah terintegrasi dengan data kependudukan Direktorat Jenderal Dukcapil. Integrasi ini dinilai meningkatkan akurasi data, transparansi layanan, serta mencegah potensi penyimpangan administrasi.

Sementara itu, Aksi Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) mencapai 49,64 persen dan terus didorong melalui penguatan kepatuhan terhadap mekanisme pengadaan yang akuntabel, khususnya optimalisasi pemanfaatan sistem pengadaan secara elektronik.

Adapun Aksi Conflict of Interest (COI) mencatatkan capaian sangat signifikan sebesar 90 persen, menjadi capaian tertinggi di antara seluruh indikator. Khairunas menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut yang mencerminkan komitmen kuat pimpinan dan pejabat di lingkungan Kementerian Agama. “Capaian COI yang tinggi ini merupakan hasil nyata dari komitmen para pejabat Eselon I, II, dan III dalam mendeklarasikan potensi konflik kepentingan secara terbuka, serta penguatan sistem pelaporan yang semakin tertib dan terintegrasi,” jelasnya.

Irjen Khairunas menilai capaian di atas rata-rata nasional tersebut menjadi indikator bahwa upaya penguatan tata kelola dan pencegahan korupsi di lingkungan Kementerian Agama terus berjalan dan mulai memberikan dampak yang nyata.

“Capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh unit kerja dalam memperkuat sistem, prosedur, dan budaya kerja yang berorientasi pada integritas. Namun demikian, kami memandang capaian ini sebagai pijakan untuk terus melakukan perbaikan berkelanjutan hingga target akhir Stranas PK tercapai,” tegasnya.

Lebih lanjut, Khairunas menegaskan bahwa Itjen Kemenag akan terus mendorong optimalisasi pelaksanaan seluruh aksi Stranas PK melalui penguatan pengawasan intern, pendampingan kepada unit kerja, serta penguatan fungsi pencegahan. “Pengawasan yang efektif harus mampu menjadi early warning system, memastikan setiap program berjalan sesuai ketentuan, serta memberi nilai tambah bagi peningkatan kualitas tata kelola dan layanan publik,” tandasnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Saadiah Uluputty: Tradisi Tutup Atap Rumah Tua Perekat Kebersamaan Masyarakat Negeri Hila

Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKS Dapil Maluku, Saadiah Uluputty, menghadiri kegiatan adat tutup atap rumah tua yang digelar oleh masyarakat Negeri Hila, Jazirah Leihitu, pada 18 Januari 2026.

Kegiatan tutup atap rumah tua merupakan salah satu prosesi adat sakral yang memiliki makna penting bagi masyarakat Negeri Hila. Tradisi ini tidak hanya menandai penyelesaian pembangunan fisik rumah adat, tetapi juga menjadi simbol persatuan, gotong royong, dan kesinambungan nilai-nilai leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Acara berlangsung khidmat dan semarak dengan penampilan tarian-tarian tradisional yang dibawakan oleh masyarakat setempat. Tarian tersebut menjadi ekspresi budaya yang merefleksikan hubungan erat antara manusia, adat, dan lingkungan sosialnya.

Dalam prosesi penutupan atap rumah tua, Saadiah Uluputty mendapat kehormatan untuk turut mengambil bagian secara langsung. Di hadapan tokoh adat dan masyarakat yang hadir, Saadiah menyampaikan pernyataannya, “Saya akan mengangkat atap kedua,” sebagai simbol kesiapan untuk ikut serta dalam prosesi adat tersebut.

Partisipasi Saadiah dalam ritual ini mendapat apresiasi dari masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan tradisi lokal. Kehadiran wakil rakyat di tengah-tengah kegiatan adat dinilai sebagai wujud nyata kedekatan dan kepedulian terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Saadiah Uluputty menyampaikan bahwa adat dan tradisi merupakan fondasi penting dalam membangun jati diri masyarakat Maluku. Menurutnya, pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur fisik, tetapi juga tentang menjaga nilai-nilai budaya yang memperkuat kebersamaan dan identitas daerah.

Kegiatan tutup atap rumah tua di Negeri Hila berlangsung dengan penuh kebersamaan dan kekhidmatan, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh masyarakat yang hadir, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya merawat warisan budaya sebagai bagian dari kehidupan bersama.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Mendes Yandri Ajak APKASI Wujudkan Asta Cita ke-6

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mengajak Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) terlibat dalam proses pembangunan desa. Ia yakin keterlibatan kepala daerah di level kabupaten maupun provinsi akan menambah besarnya peluang dalam mewujudkan pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan sebagaimana tertuang dalam Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto.

“Saya ingin bekerja sama dengan seluruh Bupati se-Indonesia. Apa potensi, peluang yang bisa kita kerjasamakan. Kami siap melakukan kolaborasi bersama Bapak Ibu untuk mewujudkan Asta Cita ke-6 Bapak Presiden Prabowo ini,” tegasnya saat menjadi narasumber dalam forum dialog dengan topik Memperkuat Peran Kabupaten dalam Optimalisasi Dana Desa, Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, dan Percepatan Pembangunan Kawasan Perdesaan dan Daerah Tertinggal di Batam, Selasa (20/1/2026).

Setiap Bupati diharap Mendes Yandri bisa memetakan desa di seluruh wilayahnya dalam beberapa hal. Di antaranya potensi alam, SDM, dan hasil bumi yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang ekonomi warga.

Dalam hal ini, pemerintah telah memberikan dukungan secara penuh melalui BUMDesa dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Tidak terbatas pada pasar dalam skala nasional untuk mendistribusikan produk yang dihasilkan masyarakat, namun juga level internasional.

“Kita buat desa menjadi berdaya salah satunya melalui desa ekspor. Target kami bersama Kementerian Perdagangan ada 5.000 desa ekspor. Kopdes juga. Kopdes Merah Putih ini akan menjadi mesin ekonomi di desa. Pemerataan ekonomi sekaligus pemberantasan kemiskinan seperti Asta Cita ke-6 Bapak Presiden Prabowo Subianto,” tuturnya.

Dalam forum tersebut, Mendes Yandri berdialog sacara aktif dengan Bupati dari berbagai daerah. Bupati menyampaikan persoalan serta kondisi yang terjadi di desa setempat dan direspons sesuai dengan kewenangan dan kebijakan sebagai Mendes PDT.

Seperti diketahui, desa menjadi ruang paling mendominasi wilayah Indonesia sehingga perlu diperkuat dari berbagai aspek. Jika masyarakat desa bisa disejahterakan dengan memaksimalkan potensinya maka pemerintah berhasil melakukan pemerataan ekonomi dan tidak lagi ada kemiskinan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Kemendes PDT melakukan kolaborasi dengan seluruh pihak di antaranya sesama K/L, pemerintah daerah, perusahaan swasta, NGO, hingga kelompok masyarakat. Hal ini penting karena tidak sebatas pada pengelolaan BUMDesa dan KDMP namun juga menunjang suksesnya Makan Bergizi Gratis (MBG) yang juga bagian dari program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Oleh karena itu Mendes Yandri menggagas 12 Aksi Prioritas Bangun Desa Bangun Indonesia yang mencantumkan berbagai sektor penting untuk pembangunan desa. Revitalisasi BUMDesa dan pembentukan KDMP, pengembangan desa ekspor, swasembada pangan, hilirisasi produk unggulan desa, peningkatan investasi desa melalui pola kemitraan nasional dan investor luar negeri, dan lain-lain yang langsung melibatkan masyarakat desa.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Mendes Yandri Dorong Kolaborasi Global Atasi Perubahan Iklim

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mendorong kolaborasi global untuk mengatasi perubahan iklim. Pasalnya, Desa terkena dampak serius dari hal ini.

Demikian dikatakan Mendes Yandri dalam Workshop Global Knowledge Exchange on Community-Driven Approaches for Resilience yang digelar Kementerian Desa PDT bekerja sama dengan Bank Dunia di Jakarta, pada Senin (19/1/2026) malam.

Mendes Yandri mencontohkan, efek dari perubahan iklim ini menyebabkan bencana banjir yang dirasakan warga desa di berbagai wilayah, mulai dari Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Tengah, hingga Sulawesi Utara.

“Di Aceh itu banyak desa yang hilang, yang selama ini desanya ada menjadi tidak ada karena terdampak banjir yang luar biasa,” kata kata Mantan Wakil Ketua MPR RI ini.

Kondisi ini, kata Mendes Yandri, menunjukkan bahwa desa merupakan wilayah yang paling rentan saat bencana terjadi.

Dalam forum internasional yang dihadiri perwakilan dari 12 negara itu, Mendes Yandri mengajak kolaborasi global karena isu perubahan iklim bukan hanya menjadi tanggung jawab Indonesia, melainkan seluruh negara di dunia.

Mendes Yandri menilai posisi Indonesia sebagai paru-paru dunia membuat upaya menjaga desa dan lingkungan memiliki dampak global.

“Kalau Indonesia tidak kita rawat secara bersama-sama, sesungguhnya kita tidak memaksimalkan bagaimana kita merawat dunia,” kata Mendes Yandri.

Mendes Yandri juga menyampaikan bahwa di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, desa ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan nasional.

Dikatakannya, Desa di era Presiden Prabowo Subianto menjadi penting dengan adanya Asta Cita ke-6 yaitu Membangun Dari Desa dan Dari Bawah untuk Pemerataan Ekonomi dan Pemberantasan Kemiskinan.

Kementerian Desa PDT telah menjalankan 12 aksi Bangun Desa yang berfokus pada penguatan ekonomi, ketahanan pangan, energi, air, serta pengelolaan lingkungan.

“Dua belas aksi ini sejatinya ujungnya adalah menyelamatkan bumi ini, menyelamatkan kita semua, dan menyelamatkan umat manusia,” kata Mantan Ketua Komisi VIII DPR RI ini.

Mendes Yandri menyampaikan apresiasi kepada Bank Dunia dan negara-negara peserta lokakarya atas kerja sama yang telah terjalin.

Mendes Yandri berharap lokakarya ini dapat menghasilkan rekomendasi konstruktif sebagai landasan penguatan kebijakan pembangunan desa.

“Melalui lokakarya ini kami berharap mendapat input dan rekomendasi yang sifatnya konstruktif, sehingga menjadi landasan kuat bagi kami dalam merumuskan kebijakan pembangunan desa ke depan,” kata Menteri Kelahiran Bengkulu Selatan ini.

Mendes juga menegaskan bahwa forum itu tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga ruang berbagi data, fakta, dan pengalaman lintas negara yang akan bermuara pada lahirnya kebijakan yang tepat sasaran.

Negara yang menghadiri dan berpartisipasi aktif dengan berbagi pengalaman yaitu Thailand, Philipina, Kamboja, Papua Nugini, Tanzania, Guinea, Madagaskar, Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, Peru dan Bangladesh.

Turut diundang juga beberapa perwakilan dari Kedutaan Besar Negara Sahabat, Multi-Donor Fund, Kementerian Negara, Pemerintah Daerah hingga Pemerintah Desa.

Lokakarya ini merupakan rangkaian dari Peringatan Hari Desa Nasional Tahun 2026 yang dipusatkan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada tanggal 15 Januari 2026 lalu.

Akan ada Diskusi Panel dengan narasumber baik dari negara peserta maupun dari Pemerintah Indonesia.

Hadir Ingo Wiederhofer dari Bank Dunia, Staf Ahli Kemenko Pangan Bara Krisna Hasibuan, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Erik Teguh Primiantoro.

Turut hadir Wakil Mendes PDT Ahmad Riza Patria, Sekjen Taufik Madjid, Pejabat Tinggi Madya dan Pratama di lingkungan Kemendes PDT.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Menteri Nusron Laporkan Progres Revisi RTR Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat ke Komisi II DPR RI

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, melaporkan perkembangan penyusunan dan revisi Rencana Tata Ruang (RTR) di Pulau Sumatera, khususnya di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi II DPR RI yang digelar di Gedung Nusantara DPR RI, Jakarta, Senin (19/01/2026). Ia menjelaskan bahwa revisi RTR Kawasan Strategis Pulau Sumatera hingga kini masih menunggu proses penetapan dari Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg).

“Untuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) provinsi, Aceh dan Sumatera Utara masih dalam tahap revisi, sedangkan Provinsi Sumatera Barat telah menetapkan Peraturan Daerah RTRW melalui Perda Nomor 2 Tahun 2025,” ujar Menteri Nusron dalam paparannya.

Lebih lanjut, Menteri Nusron menguraikan progres RTRW di tingkat kabupaten/kota secara rinci. Di Provinsi Aceh, dari total 23 kabupaten/kota, sebanyak 4 kabupaten/kota telah menetapkan Peraturan Daerah RTRW terbaru. Selain itu, 1 kabupaten telah memperoleh persetujuan substansi dan saat ini menunggu penetapan RTRW, serta 1 kabupaten telah menyelesaikan pembahasan lintas sektor dan tengah berproses untuk mendapatkan persetujuan substansi. Sementara itu, masih terdapat 14 kabupaten/kota yang berada dalam tahap revisi materi teknis RTRW dan 3 kabupaten/kota lainnya perlu segera melakukan revisi RTRW.

Di Provinsi Sumatera Utara, dari 33 kabupaten/kota, sebanyak 7 kabupaten/kota telah menetapkan Perda RTRW terbaru. Selanjutnya, 1 kabupaten telah memperoleh persetujuan substansi dan menunggu penetapan RTRW, serta 3 kabupaten/kota telah menyelesaikan pembahasan lintas sektor dan sedang dalam proses untuk memperoleh persetujuan substansi. “Selain itu, 19 kabupaten/kota masih dalam tahap revisi materi teknis RTRW, dan 3 kabupaten/kota lainnya perlu segera melakukan revisi RTRW agar selaras dengan kebijakan penataan ruang nasional,” tambahnya.

Sementara itu, di Provinsi Sumatera Barat, dari total 19 kabupaten/kota, sebanyak 9 kabupaten/kota telah menetapkan Perda RTRW hasil revisi. Di sisi lain, 1 kabupaten telah menyelesaikan pembahasan lintas sektor, sedangkan 6 kabupaten/kota lainnya masih berada dalam proses revisi RTRW.

Menteri Nusron juga menegaskan pentingnya kesesuaian pemanfaatan ruang, khususnya yang berkaitan dengan kawasan hutan dan Areal Penggunaan Lain (APL), agar selaras dengan RTR. “Aturan ini masih perlu menjadi perhatian kita agar Kementerian Kehutanan dan ATR/BPN menjamin keselarasan dengan RTR-nya dalam kerangka One Spatial Planning Policy,” pungkasnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Anggota Komisi II DPR RI, Edi Oloan Pasaribu, menekankan perlunya kepastian dalam proses revisi RTR dan RTRW provinsi yang masih berjalan. Ia menilai, Kemensetneg perlu menetapkan penjadwalan dan target yang jelas. “Revisi yang masih berlangsung perlu memiliki jadwal maupun target yang jelas. Setidaknya, pemerintah harus mampu memberikan kepastian kepada publik mengenai arah dan rencana kebijakan ke depan,” tegasnya.

Raker dan RDP ini dipimpin oleh Ketua Komisi II DPR RI, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda. Turut mendampingi Menteri Nusron, sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama di lingkungan Kementerian ATR/BPN. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Rini Widyantini; Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Zudan Arif Fakrulloh; Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Muhammad Taufiq; Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto dan Akhmad Wiyagus; serta Wakil Menteri PAN-RB, Purwadi Arianto.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Bicara Ekoteologi di Mesir, Menag Jelaskan Peran Agama dan Kemanusiaan di Era AI

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar berbicara tentang ekotelogi serta peran agama dan kesadaran kemanusiaan di era Artificial Intelligence (AI) pada konferensi internasional yang berlangsung di Mesir. Konferensi ini digelar Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir.

Konferensi dihadiri Menteri Wakaf sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Urusan Islam Mesir, Prof. Dr. Usamah Al-Sayyid Al-Azhari. Hadir juga, para ulama, cendekiawan, intelektual, dan peneliti dari berbagai negara. Ikut mendampingi Menteri Agama, Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis M Hanafi dan Tenaga Ahli Menag Bunyamin Yafid.

Menag mengawali paparannya dengan menyampaikan salam hangat dari Presiden Prabowo Subianto. Menag juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Presiden Abdel Fattah El-Sisi atas dukungannya dalam penyelenggaraan konferensi ini.

Menag lalu membedah makna tanggung jawab manusia dalam perspektif Islam. Menurutnya, tanggung jawab manusia bukan sekadar sarana untuk mencari penghidupan, melainkan berdimensi moral, amanah sosial, dan kesadaran tentang pentingnya memakmurkan bumi.

“Dalam kerangka inilah, kami menegaskan pentingnya apa yang kami sebut sebagai ekoteologi, yakni cara pandang yang memahami hubungan antara manusia dan lingkungan berdasarkan prinsip amanah dan tanggung jawab etis,” tegas Menag di Mesir, Senin (19/1/2026).

Dalam Islam, kata Menag, bumi bukan milik mutlak manusia, melainkan titipan Ilahi. Karena itu, memakmurkan bumi tidak akan sempurna tanpa menjaga keseimbangannya. Setiap profesi yang mengganggu keseimbangan tersebut sejatinya telah menyimpang dari tujuan ibadah dan hakikat pembangunan peradaban.

Menag menyambut baik gagasan Menteri Wakaf Mesir bahwa pembangunan peradaban adalah kewajiban Islam. Menag juga sependapat dengan pandangan pemikir Aljazair, Malik bin Nabi, bahwa peradaban bukan semata akumulasi materi, tetapi bangunan kemanusiaan dan moral yang utuh. Peradaban yang berdiri di atas ikatan manusia, tanah, dan waktu tidak akan berbuah bila tidak dipersatukan oleh dorongan moral dan spiritual yang mengarahkan manusia, mengendalikan nalurinya, memberi makna pada waktu, dan mengubah tanah dari sekadar bahan mentah menjadi nilai peradaban.

Karena itu, persoalan keterbelakangan, ketergantungan, dan kekosongan nilai tidak diselesaikan dengan mengimpor produk peradaban yang sudah jadi, atau meniru model-model teknologi yang maju; melainkan diatasi dengan memperbaiki manusia, serta membangun kembali relasinya dengan nilai, waktu, dan kerja. “Peradaban tidak akan bangkit kecuali ketika semangat keagamaan terjaga dan terbangun dalam nurani manusia—bukan sebagai ritual yang kaku, melainkan sebagai energi moral yang mengendalikan perilaku, membebaskan akal, dan mengarahkan naluri,” pesan Menag.

“Jika nilai-nilai hilang, naluri akan bebas tanpa kendali. Dan ketika naluri lepas kendali, manusia kehilangan kompas etiknya,” sambungnya.

Menjaga Kemanusiaan

Menag melihat, tantangan yang dihadapi profesi pada era kecerdasan buatan (AI) bukan terletak pada kemajuan algoritma, tetapi pada penjagaan sisi kemanusiaan manusia. Dunia tidak hanya membutuhkan profesi yang cerdas, melainkan profesi yang beretika. Tidak hanya membutuhkan kompetensi teknis, tetapi juga nurani yang hidup. Dari sini, peran agama hari ini adalah menjadi kompas moral bagi kemajuan, penjamin martabat manusia, serta penjaga makna kerja/profesi dalam dunia yang bergerak cepat.

“Di Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar dari sisi jumlah penduduk, kami berupaya meneguhkan pemahaman ini melalui pengaitan pendidikan keagamaan dengan nilai-nilai profesional, serta penguatan etika kerja dalam lembaga-lembaga negara dan masyarakat. Dalam konteks ini, kami memberi perhatian khusus pada isu kecerdasan buatan serta kaitannya dengan wacana keagamaan dan otoritas pengetahuan,” papar Menag.

“Berbagai diskusi ilmiah yang kokoh, melibatkan para ulama dan pemikir besar Indonesia, menegaskan bahwa kecerdasan buatan—sebesar apa pun kemampuan analisisnya—tidak dapat menggantikan nurani keagamaan, ijtihad manusia, dan rujukan etika. Fungsinya harus tetap berada sebagai alat bantu, bukan sumber mandiri atau pengganti untuk fatwa atau bimbingan keagamaan,” lanjutnya.

Para pakar, kata Menag, juga menekankan bahwa tantangan sesungguhnya bukan pada penggunaan kecerdasan buatan dalam ranah agama, melainkan pada bagaimana penggunaan itu diatur dan dikendalikan, sehingga manusia—dengan akal, nilai, dan tanggung jawab etiknya—tetap memimpin, dan agama tetap menjadi sumber hidayah serta makna, bukan sekadar bahan yang diperas menjadi jawaban-jawaban mekanis. Otoritas keagamaan pada era kecerdasan buatan bukanlah otoritas teknis, melainkan otoritas ilmiah dan moral, yang memadukan teks, akal, realitas, dan maqashid syariah, disertai kesadaran mendalam atas transformasi zaman dan pertanyaan-pertanyaan aktual.

“Dunia kita hari ini tidak kekurangan para ahli, tetapi kekurangan nilai-nilai yang menuntun keahlian itu. Dunia tidak hanya memerlukan akal yang maju, melainkan juga akhlak yang kokoh, tanggung jawab peradaban, dan pandangan kemanusiaan yang menyeluruh,” pesannya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News