SuaraPemerintah.id – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) melaporkan laba bersih Rp 1,6 triliun pada 2020. Angka tersebut melesat 700% dibandingkan perolehan laba bersih 2019 yang tercatat hanya Rp 200 miliar, Senin (15/2/2021).
“Bisa dibilang, bukan hemat CKPN, tapi laba operasional pra-provisi atau sebelum pencadangan tumbuh, laba operasional tumbuh 400%. Non housing turun, tapi housing subsidi tumbuh 8,63%. KPR, sekarang sudah Rp 200 triliun, di mana subsidi Rp 120 T, non subsidi Rp 79 triliun – Rp 80 triliun,” jelas Plt Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu, saat paparan kinerja, Senin (15/2/2021).
Nixon menambahkan KPR dan KPA mengalami penurunan, khusus untuk segmen rumah dan apartemen senilai Rp 1 miliar. Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) BTN pada 2020 mengalami kenaikan. Dengan demikian LDR turun ke 93.
Plt Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, laba bersih itu nantinya ditopang oleh 5 strategi perusahaan dan penyaluran kredit sepanjang tahun 2021. Bank bersandi saham BBTN ini menargetkan kredit bisa tumbuh 7-9 persen.
“Kami optimis, dengan proyeksi dan potensi yang ada meskipun masih di tengah pandemi, laba bersih perseroan tahun 2021 dapat tetap tumbuh pada kisaran Rp 2,5 triliun – Rp 2,8 triliun atau naik sekitar 50 persen-70 persen secara tahunan,” kata Nixon dalam konferensi video, Senin (15/2/2021)
Sementara saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dibuka melonjak 4,34% menjadi Rp 1.805/saham pada pembukaan Sesi II perdagangan hari ini, Senin (15/2/2021), pukul 13:39 WIB. Kenaikan harga saham ini merespons kinerja keuangan perusahaan 2020 yang melesat luar di tengah pandemi covid-19.
Saham BBTN selalu berada di zona hijau setelah pada perdagangan Kamis (11/2/2021) terkoreksi 0,57% di posisi Rp 1.730/saham. Tercatat aksi beli bersih saham BBTN yang dilakukan asing di pasar reguler senilai Rp 8,40 miliar dengan volume 24,32 juta saham senilai Rp 43,24 miliar. (red/pen)


.webp)















