Suarapemerintah.ID – Kisah mantan duta besar Indonesia untuk Bosnia Herzegovina, Amelia Ahmad Yani, memberikan sebuah pesan bahwa manusia mampu membuka ruang maaf, melepaskan dendam, amarah, dan rasa benci.
Dia membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi sosok yang kuat, yang mampu keluar dari trauma masa lalu dan mengalihkan energinya untuk berkontribusi positif kepada masyarakat juga bangsa dengan mengedepankan rasa kemanusiaan dan welas asih.
Masa kecil Amelia tidaklah mudah. Anak ketiga dari delapan putra putri Jenderal Ahmad Yani ini harus menyaksikan pembunuhan sang ayah di rumahnya sendiri.
Nama Jenderal Ahmad Yani tercatat dalam sejarah sebagai salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur menjadi korban dalam peristiwa G30S tahun 1965.
Peristiwa nahas itu menorehkan luka mendalam di benak dan batin Amelia, yang terus membekas hingga kini. Demi berdamai dengan masa lalu, pada 1988 dia memilih pergi ke desa terpencil dan sepi di Bawuk, Sleman, DI Yogyakarta. Jauh dari kebisingan kota, hidup sederhana menyatu dengan para petani selama 20 tahun.
Dalam sebuah wawancara dengan salah satu media di Indonesia, perempuan kelahiran 22 Desember 1949 ini menceritakan bahwa dia tinggal sendiri di desa tersebut. Setiap hari dia mulai bekerja di sawah sejak pukul 6 pagi.
Amelia pun mengurusi kolam ikan guramenya, menanam pohon mangga, pepaya, pisang, dan buah-buahan lain. Dia juga beternak ayam, menjual telurnya, meskipun dia mengaku selalu rugi. “Enggak tahu kenapa, itulah belajar,” lanjut dia.
Di dusun yang bahkan belum teraliri listrik tersebut, dia pun menyembuhkan diri. Semua dendam, amarah, benci, dengki, kecewa hilang di desa itu.
“Saya juga bekerja dengan petani di Bukit Menoreh untuk pembibitan kambing, perkebunan kopi Robusta dan saya terlibat dalam pertanian sutra di Jawa dan Sumatera Selatan. Selama lebih dari 21 tahun hidup saya jauh dari kebisingan kota, saya tumbuh bersama para petani, hanya berbicara tentang pertanian dan saya menjalani kehidupan nyata seorang petani,” kata dia.
Kemudian, Amelia kembali ke Ibu Kota setelah anak semata wayangnya memanggil dia pulang. Dia pun menapaki jalan baru dengan langkah tegap dan hati yang lebih ringan.
Dari situ karier politiknya dimulai hingga dia ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo untuk bertugas sebagai Duta Besar Indonesia di Bosnia Herzegovina pada 2016 hingga 2020.
Saat pengangkatannya, kepada awak media Amelia menyampaikan bahwa dia siap bekerja untuk memberikan yang terbaik. Salah satu kemampuan teknik diplomasinya ialah dalam bidang kemanusiaan. Menurutnya, masalah kemanusiaan ada di Bosnia Herzegovina.
Selama bertugas, ia begitu bahagia meski aktivitasnya sangat padat. Mulai dari tugas bertemu presiden dan pejabat negara setempat, aktivitas sesama dubes, menggelar acara untuk negeri sendiri.
Dia juga mengundang para pengusaha Bosnia untuk datang ke Indonesia, menjalin kerja sama perdagangan, mempromosikan produk-produk Tanah Air, hingga menggalang kerja sama bidang pendidikan antara beberapa perguruan tinggi Bosnia dan Indonesia.
Pada 2019 misalnya, Amelia membuka keran kerja sama bisnis di Provinsi Sumatera Utara bagi pengusaha Bosnia Herzegovina.
Saat itu, sejumlah pengusaha dari negara pecahan Yugoslavia memiliki ketertarikan terhadap Indonesia, khususnya Sumut karena kebutuhan bahan baku kelapa sawit untuk industri hilirnya cukup tinggi.
Tak hanya itu, dia juga mendorong kerja sama antara Pemerintah Kota Magelang dan Distrik Brcko, Bosnia dan Herzegovina, yang meliputi bidang pariwisata, kebudayaan, dan pendidikan.
Kerja sama dalam Sister City tersebut dilakukan dengan penandatangan Letter of Intent antara Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito dan Pimpinan Delegasi dari Distrik Brcko, Damir Bulcevic.
Ketika masa tugasnya berakhir pada pertengahan tahun 2020, Amelia menyampaikan bahwa dirinya merasa sangat dekat dengan orang-orang Bosnia dan Herzegovina.
“Kadang-kadang saya tidak tahu di mana saya berada, di Bosnia atau Indonesia… Saya menjadi dekat dengan orang-orang dari tiga kelompok etnis besar, apakah mereka Bosnia, Kroasia atau Serbia, bagi saya mereka semua adalah teman baik saya seperti di Indonesia,” kata dia dilansir dari situs resmi Kemenlu.
Pada awalnya, teman-teman Amelia mengatakan untuk tidak menerima pekerjaan sebagai duta besar tersebut karena kondisi Bosnia Herzegovina sangat sepi, tidak ada apa-apa.
“Tetapi saya memiliki tekad yang kuat untuk dapat melakukannya. Pada bulan Februari 2016, ditemani oleh putra saya Dimas dan tiga anggota staf, kami tiba di Sarajevo, di sana dingin dan sunyi, namun saya telah mengalaminya di desa Bawuk lebih dari 20 tahun dengan keheningan kehidupan,” ujar perempuan yang lahir di Magelang ini.
Kini, di usia senja, Amelia tetap produktif. Bahkan di tengah pandemi, dia masih aktif menulis buku. Pada 2021, dia meluncurkan buku yang diberi judul dalam bahasa Bosnia ‘Ja Sam Amelija’ atau artinya ‘Saya Amelia’ dengan menggunakan dua teks, bahasa Indonesia dan Inggris. (Cicilia – Anggota Perempuan Indonesia Satu)
Kredit visual: tempo.co.id


.webp)
















