SuaraPemerintah.ID – Sebagian umat muslim yang ada di Negeri Wakal, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku hari ini, Sabtu (30/04) sudah bergembira merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa.
Betapa tidak, masih tersisa lebih kurang dua atau tiga hari lagi menjalankan ibadah puasa Ramadan, ternyata ada saudara-saudara umat Islam sewarga negara yang sudah mengakhiri bulan Ramadan, menggelar Salat Id dan berlebaran serta bersilaturahmi dengan para tetangga, sanak saudara dan handai taulan.
Meski terhitung dua hari lebih cepat dibandingkan waktu yang ditetapkan pemerintah secara nasional, yakni Salat Id pada Senin, 2 Mei 2022, namun warga Negeri Wakal merayakannya dengan tertib. “Kita sudah berpuasa 1 Ramadan sejak 31 Maret 2022 lalu, itu berarti kita sudah 30 hari penuh melaksanakan puasa. Jadi hari ini kita merayakan hari kemenangan 1 Syawal 2022 Hijriah,” kata Raja Wakal, Ahaja Suneth usai melaksanakan Salat Idulfitri, Sabtu (30/04) seperti dilansir dari Antara.
Menurut Ahaja Suneth, meski Negeri Wakal sudah berlebaran, masih ada sebagian warganya yang meneruskan berpuasa mengikuti waktu yang ditetapkan pemerintah pusat. “Ada sejumlah warga lain yang belum Salat Id. Kemungkinan besar mereka nanti salat di masjid yang ada di negeri-negeri tetangga,” terangnya.
Saat pelaksanaan Salat Idulfitri hari ini, sebagian warga Negeri Wakal yang tidak berkesempatan mendapatkan tempat di dalam masjid, terpaksa melaksanakan salat beralaskan tikar di ruas jalan raya maupun di halaman masjid.
Hal ini telah menjadi adat sebagian negeri di Maluku yang punya tradisi turun-temurun melaksanakan puasa bulan suci Ramadan hingga Idulfitri lebih awal dibandingkan pelaksanaan secara nasional. Menurut mereka, penentuan tanggal 1 Ramadan di Negeri Wakal bukan diputuskan secara asal, tetapi para tokoh agama telah menghitung jauh-jauh hari sebelumnya.
Jadi, tak usahlah lagi memusingkan toleransi dan perbedaan dalam menjalankan ibadah antar umat beragama. Dalam negara yang menjunjung kebinekaaan, perbedaan itu adalah keniscayaan. Akan selalu ada warga negara yang berlainan agama dan keyakinan, bahkan perbedaan dalam satu agama dan keyakinan.


.webp)















