SuaraPemerintah.ID – Bupati Blitar, Rini Syarifah yang dikenal dengan panggilan Mak Rini, mengapresiasi capaian signifikan Kabupaten Blitar dalam upaya menangani stunting. Dalam acara bimbingan teknis untuk Tim Penggerak PKK Kabupaten, Ketua TP PKK Kecamatan, dan perwakilan Desa/Kelurahan, Mak Rini menyoroti pentingnya kerjasama semua pihak dalam menghadapi permasalahan ini.
“Stunting adalah isu nasional yang menjadi fokus utama Pemerintah Pusat, terutama pada tahun 2024 ini,” ujar Mak Rini pada Selasa (2/7/2024).
Data terbaru dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia masih tinggi, mencapai 21,5%. Di Jawa Timur, angka ini mencatatkan 17,7%.
Di Kabupaten Blitar sendiri, prevalensi stunting mengalami peningkatan dari 14,3% menjadi 20,3% dalam satu tahun terakhir. Hasil penimbangan di Posyandu juga menunjukkan kenaikan prevalensi dari 9,5% pada Februari 2023 menjadi 10,5% pada Februari 2024.
Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Pusat menginstruksikan pada Juni 2024 untuk melaksanakan intervensi serentak dalam penanganan stunting dengan memulai pendataan 100% balita dan ibu hamil di Posyandu.
Kabupaten Blitar merespons dengan cepat dan berhasil menyelesaikan pendataan terhadap 63.990 balita, menjadikannya yang terdepan di Jawa Timur dan masuk dalam lima besar nasional.
“Alhamdulillah, hingga 27 Juni, Kabupaten Blitar telah menyelesaikan pendataan 100% balita. Ini adalah prestasi luar biasa bagi kita semua,” kata Mak Rini.
Mak Rini juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras dalam melaksanakan instruksi ini dengan sangat baik, terutama kepada para Kader PKK Kecamatan, TPPS Desa/Kelurahan, Kader Posyandu, dan tim Pendamping Keluarga (TPK).
Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari kerja keras dan kolaborasi semua pihak di tingkat kabupaten.
“Tanpa dukungan dan kerjasama dari semua pihak, terutama para kader di lapangan, pencapaian ini tidak akan terwujud. Mereka adalah garda terdepan dalam upaya kita menurunkan prevalensi stunting,” ujarnya.
Mak Rini berharap langkah-langkah ini akan menjadi dasar yang kuat untuk program-program berikutnya dalam penanganan stunting di Kabupaten Blitar.
“Kami berkomitmen untuk terus berupaya keras dalam mengatasi masalah ini, dengan harapan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Blitar dapat terus menurun. Kami akan melanjutkan upaya ini dengan lebih banyak intervensi yang menyeluruh dan berkelanjutan,” tambahnya.
Dengan prestasi ini, Kabupaten Blitar membuktikan bahwa kolaborasi dan tindakan konkret mampu membawa perubahan yang signifikan dalam penanganan stunting. Keberhasilan ini diharapkan menjadi motivasi bagi daerah lain untuk terus berinovasi dan bekerja sama dalam menghadapi masalah kesehatan yang mendesak ini.
“Mari kita terus bersatu untuk masa depan yang lebih sehat dan sejahtera bagi anak-anak kita,” tutup Mak Rini.
Cek Artikel dan Berita yang lainnya di Google News


.webp)











