SuaraPemerintah.id – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc., mengatakan bahwa inovasi adalah salah satu kebutuhan dalam menyongsong masa depan daerah dan bangsa. Hal tersebut disampaikan saat memberikan sambutan acara wisuda Program Pascasarjana Magister Manajemen Inovasi, Universitas Teknologi Sumbawa (UTS).
“Kita butuh inovasi. Inovasi itu adalah kebutuhan akibat perubahan zaman, perubahan lingkungan terutama inovasi teknologi. Mau inovasi atau ketinggalan, inovasi atau mati, untuk survive, untuk mampu bersaing di masa depan, kita butuh inovasi,” kata Zulkieflimansyah, Sabtu (12/9).
Untuk mewujudkan kesadaran dan peningkatan inovasi, Gubernur NTB yang akrab disapa Bang Zul ini mencetuskan Program Pascasarjana Magister Manajemen Inovasi di UTS. Magister Management Inovasi UTS menjadi program Pascasarjana satu-satunya di Indonesia.
‘’Jika kita membuka web badan akreditasi nasional, dan ketik ‘manajemen inovasi’, maka akan muncul hanya ada satu manajemen inovasi. Dan itu ada di UTS,’’ ujar Zulkieflimansyah.
Bang Zul juga pernah membahas pentingnya inovasi daerah saat menjadi keynote speaker di Seminar Nasional Manajen Inovasi (SEMA) 2020. Seminar daring pada 27/7 itu mengangkat tema “Peran Inovasi Berbasis Riset Dalam Pembangunan Daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan”.
Pada kesempatan itu, Bang mengatakan, Inovasi menjadi kunci pembangunan daerah dan bangsa yang inklusif dan berkelanjutan. Namun, untuk menghadirkan inovasi diperlukan kemajuan teknologi di dalamnya. Singkatnya, teknologi menjadi aktor utama dalam proses inovasi pembangunan.
“Tidak mungkin ada inovasi tanpa keterlibatan teknologi. Teknologi ini aktor utama dalam inovasi,” jelas Bang Zul.
Gubernur kelahiran Sumbawa Besar tersebut menjelaskan, bangsa Indonesia menerapkan sistem ekonomi terbuka. Dalam artian, perekonomian yang melibatkan diri dalam perdagangan internasional (ekspor dan impor) barang dan jasa serta modal dengan negara-negara lain. Karena sistemnya terbuka ini, daerah dan bangsa harus memiliki daya saing dan inovasi yang tinggi untuk mewujudkan pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Untuk itu, Bang Zul melanjutkan, diperlukan tiga kata kunci dalam menghasilkan sebuah inovasi. Kata kunci tersebut adalah menciptakan produk dengan kualitas yang lebih baik, harga lebih murah, dan memberikan layanan yang lebih cepat.
“Be better, be cheaper, be faster!” seru Doktor Ekonomi Industri tersebut.
Lebih jauh Bang Zul menjelaskan, Universitas atau Perguruan Tinggi memiliki peran yang besar sebagai wadah riset dalam mengembangkan teknologi dan inovasi. Universitas harus memberikan kontribusinya sebagai lembaga dalam penyelesaian masalah mendasar pembangunan Nasional. Karena di dalam Universitas memiliki berbagai bidang riset, maka inovasi yang bisa disumbangkan juga akan beragam sehingga dapat memperkaya warna pembangunan.
Ia mencontohkan inovasi dalam bisnis yang memiliki tiga indikator, yaitu perubahan produk menjadi lebih baik, proses produksi yang lebih efisien baik waktu maupun biaya dan yang terakhir yakni pelayanan yang lebih baik.
“Untuk memiliki produk yang lebih baik, proses yang lebih baik atau melayani pasar yang lebih baik butuh inovasi teknologi,” terang Gubernur lulusan Harvard University ini.
Bang Zul menuturkan bahwa inovasi bukan sebuah hal yang gampang. Inovasi butuh waktu yang lama dan butuh biaya yang tidak sedikit, walaupun perubahan yang terlihat sangat kecil.
“Inovasi itu butuh waktu, tidak tiba-tiba, butuh keteladanan, butuh pemaksaan dan lain sebagainya, jalannya panjang, berliku dan mendaki,” kata Bang Zul.
Terkait Program Pascasarjana Magister Manajemen Inovasi di UTS, Bang Zul berharap kehadirannya bisa menjadi wadah yang mampu menghadirkan lulusan-lulusan yang ahli dalam melakukan inovasi.
Inovasi, lanjutnya, tidak hadir dalam suatu kevakuman. Inovasi dipengaruhi oleh banyak faktor. Hal ini yang disebut dengan sistem inovasi yang mana di dalamnya ada unsur pemerintah, industri, kampus, sekolah dan lembaga penelitian. Oleh sebab itu, inovasi butuh menejemen yang harus dipelajari.
“Karena itu, inovasi harus diatur dikelola dengan baik, dan cara mengelola inovasi yang rumit inilah yang dipelajari dalam manajemen inovasi ini,” ungkap Bang Zul.
Proses menejemen inovasi adalah sebuah proses besar dalam merencanakan inovasi itu, mengumpulkan semua sumber daya yang ada, mengarahkan agar inovasi itu menjadi nyata, dan pada akhirnya mengevaluasi agar inovasi yang direncanakan berbuah manis di ujungnya.
“Kita berharap mudah-mudahan makin lama dan mudah-mudahan di masa yang akan datang, program Magister Manajemen Inovasi ukan hanya mendatangkan peserta didik dari Indonesia, tetapi juga mendatangkan peserta didik dari luar negeri,” harapnya.


.webp)















