Sunday, April 18, 2021

Khofifah Ajak Warga Jawa Timur Bangga dengan Keberagaman Logatnya

SuaraPemerintah.id – Bahasa ibu atau bahasa asli mengalami ancaman kepunahan setiap harinya. Menurut data Unesco, setiap dua minggu sebuah bahasa menghilang dengan membawa seluruh warisan budaya dan intelektual.

Setidaknya 43 persen dari sekitar 6.000 bahasa yang digunakan di dunia terancam punah. Hanya beberapa ratus bahasa yang benar-benar diberi tempat dalam sistem pendidikan dan domain publik, dan kurang dari seratus bahasa digunakan di dunia digital.

Dalam peringatan hari bahasa ibu internasional yang jatuh pada tanggal 21 februari yang lalu, gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat untuk mensyukuri logat Jawa Timur.

Khofifah mengatakan, keragaman budaya dan bahasa merupakan salah satu nilai lebih yang dimiliki bangsa Indonesia. Setiap suku memiliki ciri dan bahasa yang khas untuk kelompoknya. Di Jawa Timur pun beragam.

“Ini satu keragaman yang patut kita jaga, kita lestarikan dan kita kembangkan,” ujar Khofifah, Minggu (21/2/2021).

Khofifah menjelaskan, masyarakat Jatim di wilayah timur dikenal khas dengan bahasa Osing. Ada juga yang menggunakan bahasa Madura. Tapi, logat bahasa tersebut sedikit berbeda dengan masyarakat yang tinggal di Kepulauan Madura.

Masih ada lagi, lanjut Khofifah, masyarakat Jawa Timur di wilayah barat, logat bahasa hampir sama dengan Jawa Tengah, seperti daerah Bojonegor, Tuban, Magetan dan Ngawi.

“Ini masih satu provinsi, belum pada provinsi lainnya, sungguh ini kekayaan yang luar biasa,” ucapnya.

Khofifah mengungkapkan, masyarakat Indonesia patut bersyukur dengan keragaman budaya yang ada di Indonesia. Perbedaan bahasa tidak bisa disatukan dalam satu bahasa, yakni bahasa Indonesia. persatuan ditetapkan jauh sebelum Indonesia Merdeka. Yakni pada 1928.

“Penetapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan ditetapkan jauh sebelum Indonesia Merdeka. Yakni pada 1928,” ujarnya.

Bahasa tersebut lalu menjadi alat komunikasi resmi, tanpa harus menggeser bahasa daerah atau bahasa adat. Permasalahan perbedaan bisa diselesaikan dengan cara damai. Perbedaan bahasa bukan menjadi buah persoalan. Sebaliknya, keragaman bahasa dan logat menjadi anugerah serta kekayaan yang patut dilestarikan.

Tak jarang, orang sunda belajar menggunakan bahasa Jawa, dan sebaliknya. Tak jarang pula orang Jawa belajar menggunakan bahasa Batak, dan sebaliknya. Orang Batak, merasa terhormat ketika ada orang lain berusaha mempelajati bahasanya.

Di hari Bahasa Ibu Internasional ini, Khofifah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menghargai keragaman budaya dan bahasa yang ada di Indonesia, khususnya Jawa Timur. “Perbedaan bukan untuk dipersoalkan. Perbedaan merupakan kepatutan yang harus dipahami dan dihargai,” ucapnya.(red/ami)

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email suarapemerintah.id@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

HOT NEWS

10,540FansLike
419FollowersFollow
22FollowersFollow
279SubscribersSubscribe

Terpopuler

Suara Rilis

GPR Milenial

Suara Tokoh