SuaraPemerintah.ID– Apakah kita masih ingat nama-nama pahlawan Indonesia?. Ya, minimal nama pahlawan sering dipajang didinding-dinding ruang sekolah. Biasanya, tiap ajaran baru foto para pahlawan ditata rapih berjejer di tembok berwarna putih, sehingga anak baru masuk sekolah langsung tertuju dengan deretan foto tersebut. Seperti pandangan pertama, anak sekolah menjadi kenal siapa mereka?. oh, mereka itu para pahlawan kemerdekaaan. Begitulah kira-kira yang muncul dibenaknya.
Para pahlawan tersebut berjuang saat kemerdekaan Republik Indonesia dengan segenap jiwa dan raga, tumpah dara, tanah air Indonesia demi Indonesia Merdeka. Di sekolah-sekolah, foto familiar kita lihat biasanya ada Jenderal Ahmad Yani, Cut Nyak Dien, Pangeran Dipenegoro, Raden Saleh, Imam Bonjol dan beberapa pahlawan lainnya. Meski kita tidak hapal secara keseluruhan. Namun sangat membantu pengetahuan sejarah siapa saja berjasa dalam kemerdekaan NKRI.
Era 80-an sampai 90-an mungkin sekolah diwajibkan memasang gambar (foto) pahlawan nasional dari berbagai daerah, selain foto presiden dan wakil presiden RI. Baik di sekolah negeri maupun di sekolah swasta.
Bahkan ditembok sekolah madrasah, pesantren juga masih sering dijumpai foto wajah para pahlawan. Tujuannya hanya satu, agar generasi muda tahu, siapa saja pahlawan berjasa berkorban, berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Jiwa nasionalime tumbuh, kecintaan Indonesia juga tertanam dilubuk hati para pelajar sekolah. Ada rasa bangga, hormat dan takjub saat membaca kisah dari ringkasan perjalanan sang pahlawan tersebut.
Itu dulu. Kalau sekarang kabarnya bagaimana?. Krisis patroitik dan nasionalisme dirasakan para pelajar. Coba saja tanya salah satu pahlawan nasional ada di Indonesia. Mikir dulu, baru jawab sekenanya kemudian. Tidak semua pelajar seperti itu, ada juga pelajar masih punya wawasan kebangsaan, tapi sedikit.
Makanya, Presiden Jokowi beberapa waktu lalu, sempat viral dialog anak sekolah dengan Jokowi, bisa menjawab dapat sepeda. Jika Jokowi berkunjung ke sekolah-sekolah, pasti ada pertanyaan menggelitik dan jenaka dilontarkan. Hal ini dilakukan Jokowi agar para generasi muda Indonesia menjaga indentitas bangsa, ingat siapa tokoh-tokoh Indonesia, tidak ketinggalan informasi, tidak malas belajar, tidak ketergantungan gatget.
Nah, ada lagi unik, bukan hanya foto pahlawan, soal nama-nama jalan di Jakarta, mungkin Pahlawan Jenderal Sudirman beruntung, ada monumen patung di jalan protokol. Sehingga setiap orang lewat pasti bertanya. “Patung siapa itu,” tanya anak pada Bapaknya. “Itu Nak, Patung Jenderal Sudirman, salah satu pahlawan kemerdekaan,” jawab sang Ayah.
Coba, bagaimana dengan pahlawan lainnya tidak ada patung, apalagi fotonya. Apakah mereka masih mau kenalan dengan para pahlawan bangsa Indonesia, negeri kita cintai ini. Apalagi disuruh membaca buku sejarah, rasanya butuh “kerja keras”. Pasalnya Indonesia budaya literasi masih dibawa garis ‘kemapanan’.
Pernahkan kita sadar bahwa setiap jalan utama (jalan raya), semisal di jalan-jalan Daerah khusus Ibukota Jakarta banyak disematkan nama pahlawan, di antaranya jalan MH. Thamrin, jalan Daan Mogot, jalan MT. Haryono, jalan Tendean, jalan Margonda dan masih banyak lagi deretan nama pahlawan terpampang di pinggir jalan. Tapi ironis, tidak semua orang tahu bahwa nama tersebut diambil dari nama pejuang kemerdekaan.
Paling kalau kita bertanya dengan para anak muda zaman sekarang, “maaf, numpang tanya, Jalan Thamrin itu ada sejarahnya enggak,?. “Di situ ada tempat nongkrong ciamik, buat ngopi-ngopi,” jawabnya seperti itu.
Kita butuh kebet sejarah, jika tidak punya buku sejarah, minimal ketik di handphone, sejarah jalan MH. Thamrin. Nanti juga lansung keluar informasi ratuan terkait nama tersebut. Jangan kalah sama orang asing, namanya Robert Cribb. Dia menulis sejarah tentang pejuang-pejuang Indonesia, “Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949”.
Balik ke soal foto pahlawan, anak pelajar sekarang mungkin sebagian sudah lupa dengan wajah para pejuang, apalagi mengingat namanya. Ini salah siapa?. Guru, atau pemerintah terlalu sibuk dengan urusan lain?. Daripada menyalahkan, lebih baik dari sekarang kita berbenah diri, buka gatget, hanphone atau gawai kita selalu terisi kuota internet, tapi lupa fungsi utamanya untuk apa. paling buat main games mobile legend, umumnya buat share foto instragamble. Ya, ga salah sih. Itu hak asasi, tapi ya gak gitu-gituh banget.
Sesekali buka informasi menambah “nutrisi” otak pengetahuan. Nah, bulan Agustus ini momentum pas untuk reminder (mengingat) para pahlawan, jasa-jasa, perjuangan, semangat jiwa nasionalise dan jiwa patriotisme pahlawan harus ditiru dan digugu. Mumpung Agustus belum berlalu, dan sebentar lagi HUT RI ke 76, tumbuhkan jiwa patriotisme telah lama hilang entah kemana.
Bingkai foto pahlawan di sekolah kita mungkin sudah rusak atau tersimpan digudang. Plang jalan nama pahlawan mungkin sudah tak terlihat akibat tertutup ilalang dan repumputan. Tapi ingat jasa para pahlawan jangan ikut terbuang bersama kenangan.
“Bangsa besar adalah mengingat jasa para pahlawannya. Mereka para syuhada terkubur berama jasa-jasanya,” kata Jenderal MH. Nasution yang diabadikan sebagai salah satu Pahlawan Revolusi Kemerdekaan.


.webp)


















