Suarapemerintah.ID – Ibu Sud menjadi salah satu nama yang pertama melintas di benak banyak orang kalau berbicara tentang pencipta lagu anak-anak Indonesia. Sejak zaman kolonial, lagu-lagu ciptaannya sudah sangat terkenal di kalangan pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Bahkan, Ibu Sud menjadi orang pertama yang menciptakan lagu anak-anak dalam Bahasa Indonesia.
Rasa cinta Ibu Sud akan musik sudah tumbuh sejak kecil. Perempuan yang memiliki nama asli Saridjah Niung tersebut waktu kecil diangkat sebagai anak oleh seorang Wakil Kejaksaan Tinggi Batavia, J.F. Kramer. Kramer yang memiliki keahlian di bidang seni musik kerap memperdengarkan alunan musik klasik kepada Saridjah. Pada usia lima tahun, ia sudah terampil memainkan biola.
Namun, Saridjah baru mulai menciptakan lagu saat sudah bekerja sebagai guru di berbagai Hollands Inlandse School (HIS) di Batavia atau yang kini disebut sebagai Jakarta. Di tengah kesibukannya mengajar, ia banyak menggubah dan menciptakan lagu tentang kondisi negerinya.
Ide untuk menciptakan lagu tersebut muncul setelah ia melihat para muridnya mengalami kesulitan memaknai lagu anak dalam Bahasa Belanda. Pada saat itu, siswa HIS memang diwajibkan belajar lagu berbahasa Belanda seperti Zakdoek Leggen dan Kruip Door.
Pada 1928, Ibu Sud mulai dikenal masyarakat luas setelah lagunya mengudara di program siaran anak di Vereniging voor Oosterse Radio Omroep (VORO), sebuah stasiun radio milik Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda. Beberapa lagunya yang cukup populer adalah Lagu Gembira, Waktu Sekolah Usai, dan Adik Mulai Berjalan.
Dilansir dari historia.id, lagu-lagu ciptaan Ibu Sud terinspirasi dari kejadian atau suatu hal yang ia lihat. Pengalaman pribadi dan kenangan masa kecil juga menjadi inspirasi lagu-lagunya.
Salah satu contohnya, lagu Burung Kutilang tercipta setelah Ibu Sud melihat ada burung kutilang di halaman rumahnya yang melompat dari satu dahan pohon ke dahan lainnya. Bahkan, atap rumah sewaan yang bocor akibat hujan deras pun dapat menjadi inspirasi baginya untuk menulis lagu Hujan.
Salah seorang cucu dari Ibu Sud, Carmanita, juga bercerita bagaimana sang nenek menciptakan lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut karena mengingat dirinya sebagai orang Bugis. Sementara itu, Ibu Sud mendapat inspirasi untuk menulis lagu Naik Delman dan Bung Polisi Pengatur Lalulintas setelah melihat banyak delman dan polisi di kota kelahirannya, Sukabumi.
Carmanita menyatakan bahwa bila mbah-nya itu ke Bandung, selalu berpikir mau bawa anaknya jalan-jalan ke mana. Ada taman kereta api yang di Jalan Merdeka, di situlah dia bikin lagu. Tercermin dari penggalan lagunya, “Naik kereta api tut..tut..tut”.
Pada masa kependudukan Jepang, lagu-lagu yang diciptakan oleh Ibu Sud lebih banyak menceritakan tentang gambaran suasana pada zaman tersebut. Misalnya, lagu Menanam Jagung yang menggambarkan kesulitan untuk memperoleh beras kala itu karena berkarung-karung beras dikirim ke medan perang.
Carmanita mengatakan, Ibu Sud memiliki kebiasaan unik saat menciptakan lagu. Ia selalu menggunakan siulan dalam menciptakan lagu, bukan alat musik.
Dirinya pun selalu berhati-hati dalam menciptakan lagu anak-anak. Carmanita mengatakan, setiap lagu ciptaan Ibu Sud sudah dikondisikan dengan usia dan keadaan psikologis anak.
Ibu Sud selalu mempertimbangkan berbagai segi dalam menciptakan lagu. Mulai dari pemilihan kalimat, tinggi-rendahnya intonasi, hingga panjang pendeknya bait. Menurutnya, syair lagu anak-anak harus sederhana dan tidak terlalu panjang agar sesuai dengan daya tangkap anak dan mudah dimengerti.
Ibu Sud juga pernah menyatakan bahwa nada lagu jangan terlalu tinggi. Cara menyanyi seperti itu rawan membuat urat leher anak keluar karena tegang. Sementara itu, nada lagu juga jangan terlalu rendah atau datar karena akan mempengaruhi orang yang mendengarnya jadi tidak semangat atau suasana jadi muram.
Perempuan multitalenta
Meskipun terkenal sebagai pencipta lagu anak-anak, Ibu Sud juga memiliki banyak keahlian di bidang seni. Dirinya merupakan pelopor batik kreasi baru serta pencipta sandiwara anak dan opera.
Ibu Sud menekuni bidang batik setelah suaminya meninggal dalam kecelakaan pesawat pada 1954 di Singapura. Rancangan batiknya banyak diminati oleh ibu-ibu pejabat dan nyonya menteri.
Dengan kemampuan membatik mumpuni, Ibu Sud juga berhasil menembus lingkungan Presiden Soekarno. Konsep Soekarno tentang motif batik yang menggabungkan motif batik keraton dan pesisir dirintis dan berhasil diwujudkan oleh Ibu Sud. Motif ini kemudian dikenal sebagai motif batik terang bulan.
Ibu Sud pun mendapat kesempatan dari Soekarno untuk memamerkan usaha batiknya yang bernama Sri Sadono di ruang pameran Hotel Indonesia agar dapat dilihat turis asing. Sementara itu, usaha batik ibu Sud lainnya yang bernama Arti Warna berlokasi di dekat Istana Negara.
Meskipun telah sukses di bidang barunya, Ibu Sud tidak pernah kehilangan rasa cintanya pada anak-anak. Hingga hari tuanya ia masih banyak menciptakan lagu anak-anak dan mengajar murid-murid SD Pangudi Rahayu Cijantung bernyanyi.
Ibu Sud meninggal pada usia 85 tahun. Semasa hidupnya, Ibu Sud sudah menciptakan lebih dari 200 lagu yang sebagian besar merupakan lagu anak-anak. Baginya, anak-anak adalah dunianya dan semua anak-anak Indonesia adalah anaknya. (Arisa Triasti – Anggota Perempuan Indonesia Satu)
Kredit visual: Biografi-tokoh-ternama.blogspot.com


.webp)
















