Beranda blog Halaman 280

Jazuli Juwaini Siap Bawa Mathla’ul Anwar Naik Level, Fokus Pendidikan dan Kemandirian Umat

Jazuli Juwaini resmi memimpin Pengurus Besar (PB) Mathla’ul Anwar masa khidmat 2026–2031 dengan membawa visi besar untuk meningkatkan peran organisasi dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.

Dalam pernyataannya, Jazuli menegaskan bahwa kepemimpinannya akan diarahkan untuk memperkuat kontribusi Mathla’ul Anwar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus mendorong kemandirian umat.

“Mathla’ul Anwar harus semakin kokoh perannya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kami ingin memastikan seluruh potensi organisasi diarahkan untuk kemajuan pendidikan dan kemandirian umat,” ujarnya.

Jazuli juga menekankan pentingnya konsolidasi internal sebagai fondasi utama organisasi. Hal ini tercermin dari komposisi kepengurusan baru yang didominasi oleh kader internal, sebagai upaya memperkuat soliditas dan kesinambungan visi organisasi.

Di bawah kepemimpinannya, Mathla’ul Anwar akan mengoptimalkan potensi besar yang dimiliki, termasuk jaringan sekitar 3.000 lembaga pendidikan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Ia menargetkan lembaga-lembaga tersebut mampu mencetak generasi unggul yang tidak hanya kompetitif secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan dan kemandirian ekonomi.

Selain itu, Jazuli berkomitmen untuk memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan sektor swasta, guna meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas dampak program sosial organisasi.

Ia juga mendorong peran aktif kader Mathla’ul Anwar yang berada di berbagai sektor, termasuk legislatif, untuk ikut berkontribusi dalam memperkuat kebijakan yang berpihak pada pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Dengan pendekatan kepemimpinan yang kolaboratif dan berorientasi pada hasil, Jazuli optimistis Mathla’ul Anwar dapat naik ke level yang lebih tinggi sebagai organisasi modern, adaptif, dan berdaya saing di tingkat nasional.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Lalu Hadrian: Akses Pendidikan Adil Jadi PR Besar Pemerintah

Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dimanfaatkan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk mendorong pemerataan pendidikan berkualitas hingga ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah terpencil.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menilai sektor pendidikan di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto telah menunjukkan arah perubahan yang signifikan, terutama dari sisi pembangunan infrastruktur.

“Terkait penilaian saya terhadap kemajuan pendidikan di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran, saya dapat menyatakan bahwa telah terjadi arah perubahan yang nyata, meskipun tantangannya masih sangat berat,” kata Lalu dalam keterangannya, Sabtu (2/5/2026).

Salah satu capaian yang disorot adalah percepatan renovasi sekolah secara nasional. Jika sebelumnya hanya sekitar 17 ribu sekolah yang direnovasi, pada 2026 jumlahnya meningkat signifikan menjadi sekitar 70 ribu sekolah, dengan target seluruh sekolah selesai direnovasi pada 2028.

Selain infrastruktur, DPR juga mencermati upaya pemerintah dalam mendorong transformasi digital pendidikan, seperti penggunaan papan pintar (smart board) di ruang kelas, pemberian tunjangan bagi guru non-ASN, hingga peluncuran program Sekolah Rakyat.

Namun demikian, DPR menegaskan bahwa pembangunan fisik tidak cukup untuk menjawab tantangan pendidikan nasional. Kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), masih menjadi persoalan mendasar.

Menurut Lalu, distribusi tenaga pendidik dan fasilitas belajar di daerah terpencil masih menghadapi berbagai kendala, termasuk tingginya biaya operasional dibandingkan wilayah perkotaan.

“Pendidikan bermutu tidak cukup hanya dengan gedung yang megah, tetapi harus diiringi dengan kualitas pembelajaran yang unggul bagi setiap anak bangsa,” tegasnya.

DPR menilai pemerataan pendidikan menjadi pekerjaan rumah besar yang membutuhkan kehadiran negara secara lebih kuat dan konsisten, baik dari sisi kebijakan, anggaran, maupun implementasi di lapangan.

Melalui momentum Hardiknas ini, DPR menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan pendidikan agar mampu menghadirkan akses yang adil, merata, dan berkualitas bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Bupati Tabalong: Data Akurat Kunci Kebijakan, Desa Namun Jadi Desa Cantik 2026

Pemerintah Kabupaten Tabalong bersama Badan Pusat Statistik (BPS) resmi mencanangkan Desa Namun, Kecamatan Jaro, sebagai Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) Tahun 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Barunak Tanjung pada Selasa (24/4/2026), sekaligus dirangkaikan dengan sosialisasi Sistem Informasi Dana Desa (SIMFONI NADA).

Pencanangan ini merupakan langkah strategis pemerintah daerah dalam memperkuat tata kelola pemerintahan desa, khususnya dalam pengelolaan data dan keuangan desa yang akuntabel serta berbasis bukti. Melalui program Desa Cantik, pemerintah mendorong peningkatan kualitas data di tingkat desa agar lebih tertib, terstandar, dan dapat dimanfaatkan secara optimal dalam perencanaan pembangunan.

Bupati Tabalong, H. Muhammad Noor Rifani, menyampaikan bahwa data memiliki peran penting dalam menentukan arah kebijakan pembangunan. Menurutnya, ketersediaan data yang akurat akan menghasilkan kebijakan yang tepat sasaran dan berdampak nyata bagi masyarakat.

“Pembangunan tidak dapat dilepaskan dari data. Data yang akurat akan menghasilkan kebijakan yang tepat,” ujarnya.

Selain itu, program Desa Cantik juga diarahkan untuk meningkatkan literasi statistik aparatur desa serta mendorong terbentuknya agen-agen statistik di tingkat desa yang mampu mengelola dan memanfaatkan data secara mandiri. Hal ini sejalan dengan upaya transformasi desa berbasis data guna memperkuat pembangunan dari tingkat paling bawah.

Sejalan dengan pencanangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Tabalong juga melaksanakan sosialisasi SIMFONI NADA sebagai sistem informasi yang mendukung transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana desa. Sistem ini diharapkan dapat mempermudah proses administrasi keuangan desa sehingga lebih tertib, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kepala BPS Kabupaten Tabalong, Husnalia, menyampaikan bahwa desa memiliki peran strategis sebagai ujung tombak pembangunan. Oleh karena itu, penguatan statistik di tingkat desa menjadi kunci dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, serta pengentasan kemiskinan.

Ia berharap Desa Namun dapat menjadi percontohan dalam implementasi Desa Cantik di Kabupaten Tabalong serta mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas data desa.

Melalui pencanangan ini, ketiga desa tersebut diharapkan mampu menjadi model desa berbasis data yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat fondasi pembangunan daerah yang lebih efektif dan inklusif.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Perkuat Pengendalian Inflasi, Pemkab Tabalong Optimalkan Inovasi “PIRAMIDA” untuk Pengambilan Keputusan Cepat

Menindaklanjutai arahan Bupati Tabalong, H. Fani, pada Rapat Koordinasi Pemerintah Kabupaten Tabalong tanggal 27 April 2026, pemerintah Kabupaten Tabalong terus memperkuat langkah-langkah strategis dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan kebutuhan pokok. Hal ini ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Tabalong, Hj. Hamida Munawarah, di Aula Rapat BPKAD Tabalong, Rabu (29/04/2026).

Rapat yang dihadiri oleh seluruh anggota Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Tabalong dari berbagai SKPD terkait, Kepala Bank Kalsel Cabang Tanjung, serta Plt. Direktur Operasional Perumda Tabalong Jaya Persada ini, memfokuskan perhatian pada pergerakan harga sejumlah komoditas kunci.

Respons Cepat Melalui Operasi Pasar Berdasarkan pantauan terkini, terdapat empat komoditas yang menjadi perhatian utama pemerintah daerah, yakni Beras Banjar, LPG, Minyak Goreng, dan Gula Pasir. Menanggapi dinamika harga pada komoditas tersebut, Sekda Hamida Munawarah memberikan instruksi tegas kepada jajaran TPID untuk segera melakukan langkah konkret.

“Kami menginstruksikan agar segera dilaksanakan Operasi Pasar untuk komoditas-komoditas yang saat ini menjadi perhatian. Langkah ini penting untuk memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga dan inflasi di Tabalong tetap terkendali,” ujar Hj. Hamida Munawarah di sela-sela rapat.

Aplikasi PIRAMIDA: Sistem Peringatan Dini yang Responsif Selain aksi di lapangan, Pemkab Tabalong kini memiliki senjata baru berbasis digital dalam memantau inflasi, yaitu aplikasi PIRAMIDA (Pemantauan Inflasi dan Rekomendasi Pimpinan Daerah). Inovasi ini berfungsi sebagai Early Warning System (EWS) yang memberikan notifikasi otomatis jika harga harian komoditas di pasar melampaui ambang batas yang telah ditentukan.

Sekda menyampaikan bahwa aplikasi ini merupakan jawaban atas kebutuhan data yang akurat dan real-time. Meski baru saja dibahas secara mendalam dalam koordinasi ini, PIRAMIDA sejatinya telah diujicobakan dengan menggunakan data historis sejak tahun 2025 untuk memastikan keandalan sistemnya.

“Aplikasi PIRAMIDA ini sangat dinanti-nantikan oleh pimpinan karena sangat membantu sekali dalam proses pengambilan keputusan yang cepat dan tepat dalam rangka pengendalian inflasi di Tabalong,” tegasnya.

Dorong Inovasi Daerah di Ajang IGA Pemanfaatan PIRAMIDA diproyeksikan menjadi salah satu inovasi unggulan Kabupaten Tabalong untuk dilaporkan dalam ajang Innovative Government Award (IGA). Keunggulan utama yang ditawarkan adalah transformasi birokrasi dari model pemantauan manual menuju sistem berbasis data yang mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan secara instan.

Dengan adanya sistem peringatan dini ini, keterlambatan dalam merespons kenaikan harga dapat diminimalisir. Dampak nyata yang dirasakan adalah proses pengambilan keputusan yang jauh lebih cepat, akurat, dan terukur, sehingga gejolak harga di tingkat masyarakat dapat segera diredam sebelum meluas.

Melalui koordinasi rutin dan penguatan inovasi digital ini, TPID Kabupaten Tabalong optimis dapat terus mempertahankan tren positif pengendalian inflasi daerah di masa mendatang.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Momentum Hardiknas Meneguhkan Pendidikan yang Memerdekakan dan Berkarakter

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2026 menjadi momentum reflektif untuk meneguhkan kembali arah pendidikan nasional sebagai upaya memanusiakan manusia melalui proses yang berlandaskan nilai, karakter, dan kasih sayang.

Merujuk naskah sambutan Hardiknas, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Hardiknas bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ajakan untuk menghidupkan kembali semangat pendidikan yang berpihak pada kemanusiaan.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional adalah momentum untuk melakukan refleksi, meneguhkan, dan menghidupkan spirit pendidikan nasional. Pada hakikatnya pendidikan adalah proses yang dilaksanakan secara tulus, penuh kasih dan sayang untuk memanusiakan manusia. Inti proses pendidikan adalah memuliakan, sebagaimana sistem among Ki Hajar Dewantara: asah, asih, dan asuh.

Semangat tersebut juga tercermin dalam pelaksanaan upacara Hardiknas yang diselenggarakan di Pendopo Taman Siswa, Yogyakarta pada Sabtu (2/5).

Ki Saur Panjaitan XIII, Panitera Umum Taman Siswa, mengingatkan bahwa tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks di tengah derasnya arus globalisasi. Ia menyinggung peringatan Ki Hajar Dewantara tentang “zaman kebingungan”, di mana nasionalisme diuji bukan lagi melalui peperangan fisik, melainkan melalui arus budaya asing, produk impor, dan penetrasi digital yang dapat menggerus jati diri bangsa.

“Pendidikan sesungguhnya bukan hanya mengisi kepala anak-anak dengan pengetahuan saja. Ia adalah menuntun mereka menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur. Dalam tradisi Taman Siswa, hal ini dikenal dengan ungkapan “Lawan Sastra Ngesti Mulya , Suci Tata Ngesti Tunggal”, serta membentuk pribadi yang Ngandel, Kendel, Bandel, Kandel, Beriman, Berani, Teguh, dan Kuat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa peringatan Hardiknas harus dimaknai sebagai gerakan bersama seluruh elemen bangsa. “Hari Pendidikan Nasional ini adalah milik kita semua, bukan sekadar seremoni tetapi panggilan untuk kembali pada esensi pendidikan yang memerdekakan manusia lahir dan batin, menjaga martabat bangsa, serta membentuk generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga berani, jujur, dan berdaulat. Oleh karena itu, mari kita tetap bersatu sebagaimana semangat Taman Siswa dan partisipasi semesta antara pemerintah, masyarakat, dan insan pendidikan. Dengan persatuan itu, Indonesia yang berdaulat bukan hanya cita-cita, tetapi menjadi keyakinan,” tegasnya.

Sebagai bagian dari rangkaian peringatan, setelah upacara, siswa dan guru melaksanakan ziarah ke makam Ki Hajar Dewantara sebagai bentuk penghormatan atas jasa Bapak Pendidikan Nasional sekaligus refleksi nilai-nilai perjuangannya.

Sementara dari sisi satuan pendidikan, para guru turut menyampaikan pandangan mereka terhadap makna Hardiknas. Anita, guru SMP Taman Dewasa Jetis, menekankan pentingnya pendidikan karakter dalam proses pembelajaran.

“Pendidikan harus mampu mengubah karakter siswa, sehingga mereka tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memiliki sikap dan kepribadian yang baik dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Senada dengan itu, Almas Zahra, guru dari SMA Taman Madya, menyoroti pentingnya pemerataan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. “Hari Pendidikan Nasional menjadi pengingat agar pendidikan di seluruh Indonesia semakin diperhatikan dan terus berkembang, terutama bagi daerah-daerah yang masih tertinggal,” katanya.

Suara siswa turut mewarnai refleksi Hardiknas tahun ini. Feli, siswa kelas VII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan, menyampaikan harapannya terhadap kemajuan sekolah. “Semoga sekolahnya lebih maju lagi, baik dari fasilitas maupun pembelajarannya,” ungkapnya.

Sementara itu, Salvador Wayoi, siswa asal Papua di SMA Taman Madya, menekankan pentingnya kesadaran akan nilai pendidikan. “Semoga pendidikan di Indonesia semakin maju dan bisa menjangkau semua yang belum tersentuh, serta membuat kita lebih sadar bahwa pendidikan itu penting,” tuturnya.

Menambah semarak peringatan, keterlibatan siswa dalam pelaksanaan upacara juga menjadi pengalaman berharga. Sandi Yuda Putra Mahardika, siswa SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan yang bertugas sebagai petugas pleton, mengaku bangga dapat berpartisipasi aktif. “Seru dan senang bisa ikut terlibat pada upacara Hardiknas. Semoga pendidikan Indonesia semakin kreatif, maju, dan para guru selalu sehat serta terus membimbing kami,” ujarnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Momen Haru di Hardiknas 2026, Kisah Adiba Jadi Inspirasi di Palangka Raya

Suasana hangat dan penuh haru mewarnai peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Usai upacara, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq, meresmikan Revitalisasi Satuan Pendidikan serta meninjau kegiatan belajar di SKH Negeri 2 Palangka Raya, Sabtu (2/5).

Memasuki ruang kelas, Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq langsung menyapa hangat, “Halo adik-adik, senang sekolah di sini?” Sapaan itu dijawab serempak, “Senang, Pak!” Suasana pun seketika mencair. Dalam obrolan santai, Wamendikdasmen menanyakan jam pulang sekolah. Guru menjelaskan, untuk jenjang yang lebih besar seperti SMA, siswa biasanya pulang sekitar pukul 12.00. Sementara itu, untuk siswa SD kelas 1 hingga kelas 3, ada yang pulang pukul 10.00 dan sebagian lainnya sekitar pukul 11.00. Obrolan kecil tersebut membuat suasana kelas terlihat akrab.

Para guru menjelaskan bahwa setiap siswa yang masuk terlebih dahulu melalui proses asesmen, agar pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing anak. Dalam praktiknya, tidak semua siswa dapat hadir setiap hari karena berbagai kondisi, termasuk faktor keluarga. Namun, kegiatan belajar tetap berjalan dengan pendekatan yang fleksibel sesuai kondisi siswa.

Dalam kunjungan tersebut, Wamendikdasmen tidak hanya melihat peningkatan sarana dan prasarana, tetapi juga menyaksikan langsung proses kegiatan belajar mengajar serta berbagai karya kreatif siswa. Salah satu yang menarik perhatian adalah karya seni berupa lukisan wajah menteri yang dibuat dari susunan benang, menunjukkan kreativitas dan ketekunan siswa berkebutuhan khusus.

Momen paling berkesan terjadi saat Wamendikdasmen berdialog dengan Adiba Shakila Atmarani, siswa berkebutuhan khusus dari SKH Negeri 1 Palangka Raya. Adiba sebelumnya tampil memukau dengan menyanyikan lagu Rukun sama Teman, lalu atas permintaan Wamendikdasmen Adiba menyanyikan lagu daerah “Manjala” yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Dalam percakapan hangat tersebut, Adiba menyampaikan pesan sederhana namun mendalam tentang pentingnya kerukunan. “Harus rukun sama teman, supaya hidup tenang,” ujarnya dengan polos. Ia juga dengan antusias menyebutkan nama-nama sahabatnya di sekolah, mencerminkan lingkungan belajar yang inklusif dan penuh kebersamaan.

Di balik senyumnya, Adiba menyimpan kisah hidup yang menyentuh. Ia bercerita tentang keluarganya dan kehilangan yang pernah dialami, namun tetap menunjukkan semangat dan rasa syukur atas kasih sayang yang ia terima saat ini. Keteguhan hati itu tercermin dalam cita-citanya yang besar, menjadi penyanyi sukses seperti Putri Ariani, sekaligus ingin menjadi seorang guru.

Bakat Adiba pun telah terbukti. Ia pernah meraih Juara 1 Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat provinsi, dan kini tengah mempersiapkan diri untuk kompetisi tingkat selanjutnya. Dengan rutin mengikuti les keyboard dan vokal, Adiba terus mengasah kemampuannya untuk meraih mimpi.

Wamendikdasmen bersama Gubernur Kalimantan Tengah memberikan apresiasi dan dukungan penuh kepada Adiba. Mereka berharap, semangat dan prestasi Adiba dapat menjadi inspirasi bagi siswa lainnya, sekaligus menjadi bukti bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berkembang ketika mendapatkan dukungan yang tepat.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Serap Aspirasi Guru di Kalimantan Tengah, Pemerintah Dorong Penguatan Kompetensi dan Kesejahteraan

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru merupakan prasyarat utama dalam mempercepat transformasi pendidikan di daerah. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan dialog bersama pemerintah daerah dan perwakilan guru se-Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Sabtu (2/5).

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Bupati Pulang Pisau ini diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas guru, organisasi profesi, serta pemangku kepentingan pendidikan. Dialog berlangsung dalam format panel interaktif, menghadirkan ruang artikulasi langsung atas persoalan riil yang dihadapi guru di lapangan.

Dalam arahannya, Wamendikdasmen menekankan bahwa tantangan utama pendidikan saat ini tidak lagi terletak pada akses, melainkan kualitas pembelajaran di ruang kelas. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan nasional menempatkan guru sebagai prioritas utama dalam pembangunan sumber daya manusia. “Guru tidak bisa lagi diposisikan sekadar pelaksana kurikulum. Guru adalah aktor kunci yang menentukan kualitas pembelajaran. Karena itu, penguatan kompetensi dan kesejahteraan guru harus berjalan simultan,” ujar Fajar.

Berdasarkan data Rapor Pendidikan, kualitas layanan pendidikan di Pulang Pisau masih memerlukan penguatan, khususnya pada aspek literasi, numerasi, dan kualitas pembelajaran. Indeks Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang berada pada angka 68,48 menunjukkan capaian yang belum optimal dan memerlukan intervensi yang lebih sistematis.

Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah pusat telah menetapkan arah kebijakan strategis tahun 2026 yang mencakup peningkatan kualifikasi akademik guru, penguatan kompetensi berbasis praktik pembelajaran, serta integrasi teknologi dalam proses belajar mengajar. Pendekatan ini diarahkan untuk memastikan guru tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga mampu menjadi motor inovasi di kelas.

Selain aspek kualitas, isu kesejahteraan guru juga menjadi perhatian utama dalam diskusi. Wamendikdasmen menegaskan bahwa tata kelola guru ke depan akan dibangun dalam satu siklus utuh yang mencakup rekrutmen, pengembangan, kinerja, kesejahteraan, hingga karier. Pendekatan ini bertujuan menciptakan sistem yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan bagi profesi guru.

Dalam forum tersebut, sejumlah guru menyampaikan tantangan yang mereka hadapi, antara lain keterbatasan akses terhadap pelatihan berbasis praktik, minimnya pemanfaatan data dalam perencanaan pembelajaran, serta keterbatasan sarana digital. Wamendikdasmen menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan parsial, melainkan membutuhkan dukungan sistemik dari pemerintah daerah dan pusat. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan pelatihan sesaat. Yang dibutuhkan adalah ekosistem pembelajaran guru yang berkelanjutan, berbasis komunitas, dan didukung kebijakan yang konsisten,” tegasnya.

Lebih lanjut, Wamendikdasmen mendorong optimalisasi peran komunitas belajar guru seperti KKG dan MGMP sebagai ruang refleksi dan berbagi praktik baik. Ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan kepala sekolah sebagai instructional leader yang mampu memastikan kualitas pembelajaran berjalan efektif di satuan pendidikan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kerja Wamendikdasmen di Kalimantan Tengah dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026. Dialog tersebut diharapkan memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menghadirkan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan guru.

Sebagai penutup, Wamendikdasmen menegaskan bahwa masa depan pendidikan daerah sangat ditentukan oleh kualitas guru. “Jika guru kuat, maka sekolah akan maju. Dan jika sekolah maju, masa depan daerah akan terjamin,” pungkasnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Momen Bersejarah Hardiknas di Banyuwangi, Ribuan Warga Rayakan Pendidikan dalam Pesta Rakyat

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2026 di Banyuwangi, Jawa Timur, berlangsung semarak dengan melibatkan ribuan masyarakat di Taman Blambangan. Semangat perayaan semakin terasa melalui pagelaran seni kolosal yang menampilkan kolaborasi murid lintas jenjang, sebagai perpaduan pendidikan, seni, dan budaya dalam satu panggung kebersamaan.

Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal rangkaian kegiatan, dengan kehadiran murid, guru, orang tua, hingga seniman dan budayawan yang turut memeriahkan peringatan Hardiknas 2026. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, menyebut perayaan ini sebagai salah satu yang paling meriah.

“Ini peringatan Hari Pendidikan Nasional yang paling meriah se-Indonesia,” ujarnya, di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (2/5).

Mendikdasmen mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi atas penyelenggaraan acara yang tidak hanya khidmat, tetapi juga mampu menghadirkan kegembiraan bagi masyarakat. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memungkinkan acara ini berlangsung dengan khidmat dan meriah dalam rangka kita memajukan dan mencerdaskan bangsa untuk Indonesia yang hebat, maju, dan bermartabat,” ungkapnya.

Semarak peringatan Hardiknas 2026 semakin terasa melalui pagelaran seni kolosal “Kuntulan Ewon” yang melibatkan lebih dari 1.100 pelajar dari berbagai jenjang pendidikan. Terdiri dari 600 pemusik dan 500 penari, para peserta menampilkan harmoni gerak, musik, dan vokal yang memukau, sekaligus menyampaikan pesan kuat tentang pendidikan karakter dan kebersamaan dalam keberagaman. Penampilan ini menjadi wujud sinergi antara pendidikan dan pelestarian budaya yang melibatkan putra dan putri Banyuwangi.

Suasana semakin hangat ketika Mendikdasmen turut bergabung bersama para pelajar menyanyikan lagu “Rukun Sama Teman”, menciptakan momen kebersamaan yang menggambarkan nilai-nilai kebersamaan dan semangat belajar yang menyenangkan.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani Azwar Anas, menyampaikan bahwa perayaan ini merupakan bentuk kolaborasi antara dunia pendidikan dan pelaku seni budaya di daerah.

Alhamdulillah, hari ini kami menyelenggarakan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026, sekaligus kami sandingkan dengan atraksi Kuntulan Ewon, di mana pesertanya adalah anak-anak, guru, seniman, dan budayawan yang kami kolaborasikan menjadi sebuah atraksi yang menarik. Ada seribu lebih penari dari anak-anak sekolah kami,” ujarnya.

Ia menambahkan, momentum Hardiknas ini juga menjadi pengingat pentingnya pendidikan yang inklusif dan menghargai setiap potensi anak.

“Di Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026 ini, mari kita galang semua potensi anak-anak Indonesia, khususnya yang ada di Banyuwangi. Mari kita hargai mereka dengan potensi masing-masing. Sehingga mereka ke depan pasti punya peran dalam membangun Indonesia,” tuturnya.

Peringatan Hardiknas 2026 di Banyuwangi menunjukkan bahwa pendidikan dapat dirayakan secara inklusif dan menggembirakan, melibatkan seluruh elemen masyarakat. Dari ruang kelas hingga ruang publik, semangat belajar, kreativitas, dan kebersamaan tumbuh menjadi kekuatan bersama untuk memajukan pendidikan Indonesia.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Mendikdasmen Sampaikan Terima Kasih kepada Guru sebagai Fondasi Utama Kemajuan Pendidikan Nasional

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum refleksi bersama bagi seluruh insan pendidikan untuk meneguhkan kembali makna pendidikan yang memanusiakan. Dalam suasana khidmat upacara yang digelar di Banyuwangi, Jawa Timur, semangat kebersamaan dan penghargaan terhadap peran guru mengemuka sebagai fondasi kemajuan pendidikan nasional.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, yang memimpin jalannya upacara, secara khusus menyampaikan terima kasih kepada para guru di seluruh Indonesia atas dedikasi dan pengabdian mereka dalam mendidik generasi bangsa. “Pemerintah menyampaikan terima kasih kepada Bapak dan Ibu guru serta para pendidik yang telah berdedikasi dan mendarmabaktikan ilmunya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” tuturnya.

Dalam amanatnya, Mendikdasmen menegaskan bahwa Hardiknas adalah momentum untuk melakukan refleksi, meneguhkan, dan menghidupkan spirit pendidikan nasional. “Pada hakikatnya pendidikan adalah proses yang dilaksanakan secara tulus, penuh kasih sayang untuk memanusiakan manusia. Pendidikan adalah proses menemukan dan menumbuhkembangkan fitrah, kodrat alamiah manusia, atau potensi sebagai makhluk Tuhan yang mulia. Inti proses pendidikan adalah memuliakan,” ucapnya di Banyuwangi, Sabtu (2/5).

Nilai-nilai tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menekankan sistem among dalam pendidikan, yakni asah (ilmu), asih (kasih sayang), dan asuh (pendampingan). Prinsip ini menjadi landasan penting dalam membangun praktik pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kemanusiaan.

Makna Hardiknas juga dirasakan langsung oleh para pelaku pendidikan di lapangan. Guru SMP Negeri 1 Banyuwangi, Agus Harianto, memaknai momentum ini sebagai pengingat untuk terus mengedepankan kualitas pendidikan, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Ia menyampaikan bahwa sekolahnya mendorong pembelajaran berbasis coding agar peserta didik tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan dan memanfaatkannya secara produktif.

Senada dengan itu, guru PAUD KB Al Khotijah Banyuwangi, Wiwik Handayani, melihat Hardiknas sebagai pengingat bagi para pendidik untuk terus menjadi lilin yang menerangi generasi bangsa. “Untuk dunia pendidikan, harapan ke depannya semakin banyak inovasi sehingga para pendidik dan anak-anak generasi bangsa bersemangat dalam menempuh pendidikan. Semangat untuk teman-teman guru semuanya, kita sebagai pendidik membagikan ilmu kepada anak-anak kita,” ucapnya.

Sementara itu, Murid MAN 1 Banyuwangi, Muhammad Ravi Adiatma Nur Dafiq, memaknai Hardiknas sebagai ungkapan terima kasih atas perjuangan para tokoh pendidikan dan guru yang terus membangun pendidikan di Indonesia. “Harapan saya, semoga akses pendidikan di Indonesia bisa merata hingga ke pelosok, sehingga seluruh anak dapat merasakan pendidikan yang setara,” tuturnya.

Beragam suara tersebut menunjukkan bahwa pendidikan yang memanusiakan tidak hanya menjadi konsep, tetapi telah hidup dalam praktik sehari-hari di sekolah, melalui interaksi yang hangat, proses belajar yang bermakna, serta dukungan emosional yang saling menguatkan antara guru dan murid.

Peringatan Hardiknas 2026 menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari hasil, tetapi dari proses yang membangun manusia secara utuh. Dengan kolaborasi dan penghargaan terhadap peran setiap insan pendidikan, semangat memanusiakan manusia diharapkan terus tumbuh dan mengakar di seluruh penjuru Indonesia.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Hardiknas 2026: Mendikdasmen Tegaskan Pendidikan untuk Mencerdaskan dan Membentuk Karakter Bangsa

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2026 di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (2/5). Mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, peringatan ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen bersama dalam memajukan pendidikan nasional.

Upacara dipimpin langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, yang hadir mengenakan pakaian adat khas Banyuwangi. Upacara yang diikuti ribuan insan pendidikan ini berlangsung dengan khidmat, penuh semangat kebangsaan, dan mencerminkan tekad bersama dalam memperkuat peran pendidikan.

Pada kesempatan tersebut, Mendikdasmen menyampaikan ucapan selamat Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026 kepada seluruh insan pendidikan di Indonesia. “Alhamdulillah, pada hari ini kita bersama-sama melaksanakan peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026. Kita merayakannya dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia yang bersatu, aman, dan damai,” tuturnya.

Dalam amanatnya, Mendikdasmen menegaskan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah proses mencerdaskan kehidupan, membangun watak, dan peradaban bangsa. “Pendidikan adalah proses menumbuhkembangkan potensi manusia sehingga menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, mandiri, sehat jasmani dan rohani, jujur, bertanggung jawab, demokratis, dan kepribadian utama lainnya,” ucap Mendikdasmen.

Sebagai upaya mewujudkan tujuan tersebut, Kemendikdasmen mendorong penerapan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) sebagai program prioritas. Pendekatan ini menempatkan proses belajar sebagai pengalaman yang bermakna dan berpusat pada pengembangan potensi murid secara utuh. “Sebuah adagium populer menyebutkan: jika hendak memajukan bangsa, perbaiki pendidikan. Jika hendak memperbaiki pendidikan, perbaikilah mulai dari dalam kelas. Pembelajaran Mendalam adalah ikhtiar yang dimaksudkan untuk mencapai cita ideal pendidikan nasional,” tuturnya.

Untuk mendukung implementasi tersebut, Kemendikdasmen telah menetapkan sejumlah kebijakan strategis berikut. Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran sebagai bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto telah membawa dampak nyata bagi dunia pendidikan. Pada tahun 2025, program revitalisasi telah menjangkau 16.167 satuan pendidikan. Sementara itu, program Digitalisasi Pembelajaran melalui penyediaan Interactive Flat Panel (IFP) telah dimanfaatkan di lebih dari 288 ribu satuan pendidikan.

Selain itu, Kemendikdasmen juga terus mendorong pemenuhan kualifikasi, peningkatan kompetensi, serta kesejahteraan guru sebagai kunci utama pembelajaran yang berkualitas. Penguatan karakter dilakukan melalui penciptaan lingkungan dan budaya sekolah yang aman dan nyaman, sesuai arahan Presiden tentang budaya ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah), agar sekolah dapat menjadi rumah kedua bagi semua murid. Di sisi lain, peningkatan kualitas pembelajaran diperkuat melalui penguatan literasi, numerasi, STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), serta Tes Kemampuan Akademik (TKA). Upaya ini turut diiringi dengan perluasan akses layanan pendidikan yang lebih mudah, terjangkau, dan fleksibel, melalui berbagai skema seperti sekolah satu atap, pendidikan jarak jauh, komunitas belajar, dan sekolah terbuka.

Dalam beberapa bulan terakhir, Kemendikdasmen telah meletakkan fondasi pendidikan nasional melalui berbagai regulasi dan penguatan ekosistem yang mengintegrasikan empat pusat pendidikan, yaitu sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. Upaya ini menegaskan bahwa pembangunan pendidikan tidak dapat dilakukan secara sendiri, melainkan membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak.

Mengakhiri amanatnya, Mendikdasmen mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memperkuat kerja sama dalam memajukan pendidikan. “Mari kita perkuat kerja sama mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua menuju Indonesia yang cerdas, maju, dan bermartabat,” serunya.

Peringatan Hardiknas 2026 juga dimeriahkan dengan pagelaran seni “Kuntulan Ewon” yang melibatkan 1.100 pelajar, terdiri atas 600 pemusik dan 500 penari dari berbagai jenjang pendidikan. Penampilan ini menjadi simbol semangat kolaborasi dan keberagaman dalam dunia pendidikan.

Peringatan Hardiknas tahun ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga penguatan arah kebijakan pendidikan nasional. Melalui capaian yang telah diraih dan kolaborasi yang terus diperkuat, pemerintah berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi setiap murid di Indonesia.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News