SuaraPemerintah.ID-Saya mengenal beliau semenjak saya bisa mengenali orang lain.
Sejak saya telah bisa bermain sendiri di halaman.
Semenjak saya bisa memanggil nama orang.
Dan sejak itu pula saya memanggil beliau, Guru.
Tak pernah ada kesan tak enak semenjak mengenal beliau.
Padahal saya acapkali berjumpa.
Tak pernah memarahi saya dan teman-teman yang rusuh bermain disamping rumahnya.
Tak pernah berbicara keras menyuruh kami pergi karena mengganggu istirahatnya.
Beliau adalah sosok yang teramat lembut dan penuh kasih sayang.
Betapa saya yang tetangganya seringkali mendapat curahan perhatian.
Peka terhadap masalah yang sedang saya hadapi.
Namun bodohnya saya tak mau membagi cerita dengan sang Mahaguru.
Ah, Guru …
Kini saya sesali kesempatan yang telah pergi.
Bagi saya, beliau adalah guru kehidupan yang sejati, yang selalu mengajarkan semua hal dengan hati, mengajarkan tingkah laku dengan contoh diri sendiri, tak pernah mencela apalagi mencaci, selalu perhatian dengan tulus dan penuh empati.
Menitik air mata ini mengenang Tuan Guru yang lembut hati.
Guru,
Betapa membuat hati meleleh mengingatmu.
Betapa terbayang, senyum teduhmu.
Betapa terbayang, tulusnya hatimu.
Betapa terbayang, bijaknya kata-katamu.
Betapa terbayang, hangatnya sapamu menanyakan kabarku dengan rasa seorang bapak yang membuatku amat tersentuh.
Guru,
Tumpah sudah semua rasa yang sejak kemarin kutahan.
Aku kehilanganmu, guru.
Aku kehilangan seorang bapak,
Kehilangan seorang guru,
Kehilangan seorang panutan,
Dan kehilangan seorang teladan.
Guru,
Baru sehari kepergianmu, telah membuatku merindu.
AlFatihah buat guru ….
(Dian_Rehem)


.webp)


















