SuaraPemerintah.ID – Setiap tahun, alam semesta memberikan pertunjukan yang mengagumkan dengan berbagai fenomena langit yang menakjubkan. Salah satunya adalah apa yang dikenal sebagai “Pink Moon.”
Meskipun namanya menjanjikan keindahan warna pink yang mempesona, sebenarnya Pink Moon bukanlah tentang perubahan warna bulan menjadi pink, melainkan tentang nama tradisional yang diberikan kepada satu dari beberapa bulan purnama dalam setahun. Mari kita telaah lebih dalam tentang apa sebenarnya Pink Moon ini.
Pink Moon adalah istilah yang diberikan kepada bulan purnama yang terjadi pada bulan April setiap tahunnya. Nama ini tidak merujuk pada warna fisik bulan yang berubah menjadi pink, melainkan terkait dengan musim semi dan berbunga nya bunga liar berwarna pink (Phlox subulata) di Amerika Utara.
Tradisi memberikan nama-nama khas pada bulan purnama ini telah berakar sejak zaman dulu, ketika masyarakat asli Amerika menggunakan siklus bulan sebagai penanda waktu untuk kegiatan sehari-hari dan budaya spiritual mereka.
Saat Bulan Purnama ‘Pink Moon’ mencapai puncaknya malam ini, hujan meteor Lyrid diprediksi makin kencang di langit. Melansir LiveScience, Bulan ini akan muncul di langit musim semi di belahan Bumi utara pada minggu ini, tampak cerah dan penuh pada Senin hingga Rabu (22-24 April).
Bulan akan berada pada titik purnama pada Selasa (23 April) dan akan bersinar di konstelasi Virgo, dekat Spica, salah satu dari 20 bintang paling terang di langit malam.
Bulan purnama keempat di 2024 dijuluki Bulan Merah Muda bukan lantaran warnanya yang memang pink di semua titik pengamatan.
Nama ini diambil dari warna bunga yang mekar sepanjang tahun ini, menurut Time and Date. Bulan ini disebut juga dengan istilah ‘Breaking Ice Moon’, ‘Budding Moon’, ‘Awakening Moon’, dan ‘Egg Moon’.
Berdasarkan Farmer’s Almanac, nama penduduk asli Amerika lainnya untuk bulan purnama di April di antaranya adalah Moon of the Red Grass Appearing (Oglala), Sprouting Grass Moon (Tlingit), Bulan Blackberry (Choctaw), Bulan Bunga (Cherokee) dan Bulan Daun Besar (Apache).
Anishinaabeg atau Ojibwe, masyarakat adat di wilayah Great Lakes, mengenalnya sebagai Popogami Giizis atau Broken Snowshoe Moon, menurut Pusat Studi Penduduk Asli Amerika.
Dalam Yudaisme, Bulan Merah Muda dikenal sebagai Bulan Paskah karena menandai hari pertama perayaan Paskah Yahudi (Pesach).
Hal ini berasal dari hubungannya dengan Paskah (“Paschal” berarti berkaitan dengan Paskah), yang dirayakan oleh umat Kristen di Barat pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama saat atau setelah titik balik musim semi.
Pada 2024, itu adalah bulan purnama ‘Worm Moon’ Maret.
Meski tak sesuai namanya, Pink Moon setidaknya pernah diklaim menampilkan warna merah muda atmosfer Matahari.
Ini terjadi pada saat Gerhana Matahari Total 8 April di AS. Banyak pengamat langit di Amerika Utara melihat fase bulan baru ‘Pink Moon’, saat menghalangi Matahari dari pandangan Bumi, memberikan pemandangan menakjubkan atmosfer Matahari berwarna merah jambu.
Cerahnya wajah Bulan ini bertepatan dengan puncak hujan meteor Lyrid. Kemungkinan, momen ini membuatnya lebih cemerlang dari tampilan tahunan bintang jatuh.
Waktu terbaik untuk memantaunya adalah pada 22 April saat Bulan berada pada titik terendah, tepat sebelum fajar.
Cek lebih dahulu waktu Bulan terbit dan terbenam untuk lokasi Anda, dan temukan tempat dengan pemandangan rendah atau tak terhalang objek tinggi apa pun ke ufuk timur.
Menurut jadwal Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), purnama ini akan terjadi pada 23 April. Sementara, puncak hujan meteor Lyrid terjadi pada 22 April, yang biasanya terpantau puncaknya pada dini hari tadi.
Walau sudah tak lagi puncak, hujan meteor tak langsung menghilang lantaran proses hilangnya bertahap. Artikel ini kami lansir dari CNN Indonesia.
Cek Artikel dan Berita yang lainnya di Google News


.webp)
















